Beberapa hari belakangan dunia maya dihebohkan oleh short movie reuni artis AADC yang disponsori oleh LINE INDONESIA, sampai dengan detik ini viewer AADC versi line tersebut sudah mencapai angka 3,4 juta. Angka yang fantastis untuk sebuah short movie, penantian 12 tahun Cinta diluluhlantakkan oleh LINE INDONESIA hanya dalam kurun waktu 10 menit...you mad?
Tapi penantian Cinta tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penantian Liverpool akan gelar juara Liga Inggris, 24 tahun (dan bakal berpeluang menjadi pesta perak musim ini) tentu bukan waktu yang singkat. Cinta yang menunggu selama 12 tahun saja sampai harus berpikir selama 2 hari untuk membalas LINE dari Rangga yang ingin mengajak untuk bertemu, apalagi Liverpool yang sudah 25 tahun menunggu (3 kali diPHPkan).
Bedanya jika Cinta kemudian penantiannya terbalaskan tidak demikian dengan Liverpool, musim lalu kembali terpeleset setelah sempat hampir menjuarai Liga Inggris di beberapa laga terakhir. Saya tidak ingin membahas momen menyakitkan tersebut, mari kita lupakan sambil menyongsong musim ini. Saya akan mencoba memberikan pendapat tentang apa saja yang membuat Liverpool bisa memenangi pergelaran Liga Inggris musim ini.
1. Harus Menang
Tentu nenek nenek pun pasti tahu kalau sebuah tim ingin juara mereka harus memenangkan pertandingan sebanyak mungkin dan itulah yang harus dilakukan oleh Liverpool di sisa 27 laga jika ingin menjuarai Liga Inggris Musim ini. Secara matematis Liverpool akan mengumpulkan 95 poin di akhir musim jika memenangi seluruh laga sisa. Berat? Ya jelas berat, mana ada kerjaan yang ringan di dunia ini. Menunggu 12 tahun saja berat kok, apalagi menunggu 25 tahun.
2. Berharap Mourinho Amnesia
Percuma jika Liverpool memenangi 27 laga sisa ternyata kemudian Chelsea memenangi 26 laga sisa mereka, Liverpool tetap tidak akan juara dan tagline "We Go Again" kembali menjadi "We Gone Again". Kemungkinan terbaik adalah Mourinho jalan jalan ke New York kemudian tak sengaja membaca buku AKU yang biasa dibaca oleh Rangga dan kemudian mendadak ingat mantan SMAnya sehingga hilang fokus melatih Chelsea dan akhirnya Liverpool juara di akhir musim.
3. City Lupa Ultah Yaya Toure
Tidak bisa dipungkiri City adalah pelaku utama kegagalan Liverpool menjuarai Liga musim lalu, orang orang seperti inilah yang harusnya diPHPkan oleh Rangga, bukan Cinta. Berharap City lupa akan ulang tahun Yaya Toure sehingga yaya ngambek dan permainan City menjadi kacau. Karena seikh mansour doyan gonta ganti pelatih, tentu saja umur kepelatihan Pellegrini tak akan lama jika mereka terus bermain buruk.
4. Membeli Shane Long dari Soton
Sudah menjadi rahasia umum jika Akademi LFC sekarang sudah bukan di kirkby lagi tapi sudah pindah ke kota pelabuhan lainnya yaitu Southampton. Pembelian Lallana, Lambert, Lovren, dan malah ada isu jay Rodriguez sudah menjadi bukti yang sahih bahwa Soton adalah akademi baru LFC. Membeli Shane Long jelas akan membuat Liverpool memiliki satu permintaan yang pasti akan dikabulkan. Sekarang tergantung bagaimana permintaan tersebut dan siapa yang pertama kali mengajukan permintaan kepada Shane Long. Jika Rojes meminta gelar juara EPL maka sudah dipastikan penantian selama 24 tahun ini akan segera berakhir, tapi kalau Gerrard yang muncul dan minta perpanjangan kontrak sudah dipastikan trofi EPL akan kembali melayang karena Shane Long hanya melayani satu permintaan.
Thursday, November 13, 2014
Thursday, November 6, 2014
Menunggu Diamond dan Perubahan Line Up LFC
Liverpool akan melanjutnya kiprahnya kembali di EPL dan sabtu malam anak asuh Brendan Rodgers ini akan menjamu tim yang musim lalu menjadi penyebab kegagalan meraih trofi pertama sejak Divisi Utama berubah menjadi Premier League. Gol dari Demba Ba dan Willian menjadi pemisah hasil kedua tim dan Jose Mourinho menepuk dada membanggakan kepiawaiannya dalam urusan parkir memarkir. Mungkin Mourinho harus mencoba bagaimana caranya memarkir bus di Indonesia sehingga dia tidak jumawa seperti itu.
Pekan ke 11 ini Liverpool menjamu Chelsea dengan modal kekalahan dua kali beruntun dari Newcastle dan Real Madrid, sementara Chelsea adalah pemimpin klasemen EPL dengan 26 poin dan satu satunya tim yang belum tersentuh kekalahan musim ini. Catatan yang mungkin agak membuat sejumlah pendukung Liverpool gundah gulana karena tim kesayangannya terancam hattrick kekalahan beruntun. Meskipun demikian, saya bukanlah kaum pesimis tersebut. Saya memiliki keyakinan Chelsea tidak akan semudah yang orang bayangkan untuk memporak-porandakan Anfield.
Siapakah tim dengan pertahanan terbaik di EPL musim ini? Bukan, bukan Chelsky Bus Company tapi Southampton, tim yang pada pekan pertama dikalahkan Liverpool 2-1. Memang ketika itu pemain pemain baru belum terlalu nyetel dengan strategi Koeman sehingga alasan untuk mengatakan "Liverpool are shit" selalu saja ada. Tapi pertahanan Chelsea juga tak terlalu spesial, mereka telah kebobolan 10 gol dan hanya 3 kali sukses clean sheet di EPL, bahkan Everton bisa membobol gawang mereka sebanyak tiga kali. Come on, pertahanan mereka tak seperti 2004-2005 yang hanya kebobolan 15 kali sepanjang musim dan sukses mencatatkan 25 kali clean sheet.
Ada banyak celah yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh Liverpool sabtu nanti dengan catatan Rodgers tidak ngotot untuk main menyerang habis habisan, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Curtois tidaklah sebagus Petr cech dalam urusan menjadi shot stopper dan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh Balotelli yang punya hobi menembak dari luar kotak penalti (karena untuk bisa masuk kedalam kotak penalti adalah hal yang sangat sulit). Menembak dari luar kotak penalti adalah pilihan yang tepat untuk memecahkan kebuntuan ketika membongkar pertahanan Chelsea.
Absennya Costa harusnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh Rodgers, karena Drogba tidaklah setangguh beberapa musim yang lalu. Masalah finishing jelas krusial bagi mourinho sedangkan Hazard bukanlah gelandang haus gol. Meskipun agak sedikit panik kalau harus membayangkan Glenjo akan menjada Hazard di sektor kanan, sedangkan Gerrard harus berjuang mengcover area tengah di sana ada fabregas dan Oscar, sungguh sulit, membayangkan saja sulit.
Masalah siapa yang bakal starting pun kembali menjadi masalah yang pelik terutama setelah Liverpool B sukses mencegah kebobolan lebih banyak dari Real Madrid di Bernabeu, banyak yang menyatakan formasi seperti itulah yang harusnya diterapkan Rodgers ketika menjamu Chelsea sabtu nanti. Liverpool B berhasil meredam counter attack mematikan Real Madrid dan konon katanya sampai saat ini C. Ronaldo masih belum ditemukan pasca "dikocekin" sama Kolo Toure.
Mengenai masalah Lovren, jelas saja soal pengalaman dan mental doi kalah dari Kolo Toure yang merupakan salah satu personel Arsenal ketika mereka mengalahkan Real Madrid 1-0 di Bernabeu jadi harusnya tidak ada yang heran kenapa Kolo bisa bermain apik kemarin. Penampilan apik Kolo hendaknya memacu Lovren untuk segera kembali ke bentuk permainan terbaik seperti ketika menghadapi Dortmund di pre season kalau tidak ingin dicap sebagai "Aspas Edisi Defender". Dengan usia yang masih muda harusnya Lovren bisa belajar lebih cepat seperti yang dilakukan oleh Skrtel musim lalu padahal usianya sudah tak muda lagi.
Memilih slot tengah jelas pekerjaan yang sangat sulit apalagi dengan adanya kapten yang tak mungkin tergusur serta mesin permainan bernama Henderson membuat pertandingan melawan Madrid seolah seleksi bagi Allen, Lucas, dan Can untuk memperebutkan satu slot selain Hendo dan Gerrard. Sungguh tak adil jika mengingat peforma apik ketiganya ketika meredam lini tengan Madrid yang berisikan Modric, Kroos, James, dan Isco namun sistem Rodgers sudah seperti itu dan mereka bertiga harus menerimanya sampai paling tidak hingga si kapten tak lagi memperpanjang kontrak atau pensiun.
Lini depan akan menjadi jatah Sterling, Balo, dan mungkin Coutinho, yang mana formasi ini begitu buntu ketika menghadapi Newcastle sampai sampai tidak menghasilkan satupun shot on target babak pertama. Mungkin saatnya Rodgers mempertimbangkan Diamond dengan menduetkan Borini dan Balotelli yang disupport oleh Sterling karena ada statistik dari @natefc yang mengungkapkan bahwa Sterling sangat tidak efektif jika di letakkan disebelah kanan. Jika demikian, emncoba diamond adalah kesempatan terbaik Rodgers jika tidak ingin Liverpool berjarak 6 poin dengan peringkat 4 (maaf kita terlalu jauh dengan Chelsea).
Good Bless Liverpool...
Pekan ke 11 ini Liverpool menjamu Chelsea dengan modal kekalahan dua kali beruntun dari Newcastle dan Real Madrid, sementara Chelsea adalah pemimpin klasemen EPL dengan 26 poin dan satu satunya tim yang belum tersentuh kekalahan musim ini. Catatan yang mungkin agak membuat sejumlah pendukung Liverpool gundah gulana karena tim kesayangannya terancam hattrick kekalahan beruntun. Meskipun demikian, saya bukanlah kaum pesimis tersebut. Saya memiliki keyakinan Chelsea tidak akan semudah yang orang bayangkan untuk memporak-porandakan Anfield.
Siapakah tim dengan pertahanan terbaik di EPL musim ini? Bukan, bukan Chelsky Bus Company tapi Southampton, tim yang pada pekan pertama dikalahkan Liverpool 2-1. Memang ketika itu pemain pemain baru belum terlalu nyetel dengan strategi Koeman sehingga alasan untuk mengatakan "Liverpool are shit" selalu saja ada. Tapi pertahanan Chelsea juga tak terlalu spesial, mereka telah kebobolan 10 gol dan hanya 3 kali sukses clean sheet di EPL, bahkan Everton bisa membobol gawang mereka sebanyak tiga kali. Come on, pertahanan mereka tak seperti 2004-2005 yang hanya kebobolan 15 kali sepanjang musim dan sukses mencatatkan 25 kali clean sheet.
Ada banyak celah yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh Liverpool sabtu nanti dengan catatan Rodgers tidak ngotot untuk main menyerang habis habisan, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Curtois tidaklah sebagus Petr cech dalam urusan menjadi shot stopper dan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh Balotelli yang punya hobi menembak dari luar kotak penalti (karena untuk bisa masuk kedalam kotak penalti adalah hal yang sangat sulit). Menembak dari luar kotak penalti adalah pilihan yang tepat untuk memecahkan kebuntuan ketika membongkar pertahanan Chelsea.
Absennya Costa harusnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh Rodgers, karena Drogba tidaklah setangguh beberapa musim yang lalu. Masalah finishing jelas krusial bagi mourinho sedangkan Hazard bukanlah gelandang haus gol. Meskipun agak sedikit panik kalau harus membayangkan Glenjo akan menjada Hazard di sektor kanan, sedangkan Gerrard harus berjuang mengcover area tengah di sana ada fabregas dan Oscar, sungguh sulit, membayangkan saja sulit.
Masalah siapa yang bakal starting pun kembali menjadi masalah yang pelik terutama setelah Liverpool B sukses mencegah kebobolan lebih banyak dari Real Madrid di Bernabeu, banyak yang menyatakan formasi seperti itulah yang harusnya diterapkan Rodgers ketika menjamu Chelsea sabtu nanti. Liverpool B berhasil meredam counter attack mematikan Real Madrid dan konon katanya sampai saat ini C. Ronaldo masih belum ditemukan pasca "dikocekin" sama Kolo Toure.
Mengenai masalah Lovren, jelas saja soal pengalaman dan mental doi kalah dari Kolo Toure yang merupakan salah satu personel Arsenal ketika mereka mengalahkan Real Madrid 1-0 di Bernabeu jadi harusnya tidak ada yang heran kenapa Kolo bisa bermain apik kemarin. Penampilan apik Kolo hendaknya memacu Lovren untuk segera kembali ke bentuk permainan terbaik seperti ketika menghadapi Dortmund di pre season kalau tidak ingin dicap sebagai "Aspas Edisi Defender". Dengan usia yang masih muda harusnya Lovren bisa belajar lebih cepat seperti yang dilakukan oleh Skrtel musim lalu padahal usianya sudah tak muda lagi.
Memilih slot tengah jelas pekerjaan yang sangat sulit apalagi dengan adanya kapten yang tak mungkin tergusur serta mesin permainan bernama Henderson membuat pertandingan melawan Madrid seolah seleksi bagi Allen, Lucas, dan Can untuk memperebutkan satu slot selain Hendo dan Gerrard. Sungguh tak adil jika mengingat peforma apik ketiganya ketika meredam lini tengan Madrid yang berisikan Modric, Kroos, James, dan Isco namun sistem Rodgers sudah seperti itu dan mereka bertiga harus menerimanya sampai paling tidak hingga si kapten tak lagi memperpanjang kontrak atau pensiun.
Lini depan akan menjadi jatah Sterling, Balo, dan mungkin Coutinho, yang mana formasi ini begitu buntu ketika menghadapi Newcastle sampai sampai tidak menghasilkan satupun shot on target babak pertama. Mungkin saatnya Rodgers mempertimbangkan Diamond dengan menduetkan Borini dan Balotelli yang disupport oleh Sterling karena ada statistik dari @natefc yang mengungkapkan bahwa Sterling sangat tidak efektif jika di letakkan disebelah kanan. Jika demikian, emncoba diamond adalah kesempatan terbaik Rodgers jika tidak ingin Liverpool berjarak 6 poin dengan peringkat 4 (maaf kita terlalu jauh dengan Chelsea).
Good Bless Liverpool...
Saturday, October 25, 2014
IN RODGERS WE MUST TRUST !!!
Pada wawancara terakhirnya Rodgers dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan "defensive coach" untuk membenahi pertahanan Liverpool yang belakangan terus menjadi kritik akibat start kurang bagus musim ini. Pertahanan ala medioker seperti ketika menghadapi QPR ternyata tidak membuka mata Rodgers akan saran dari rekan rekan di twitter yang sempat mengajukan Carragher atau Hyppia sebagai pelatih defense. Dia berkeras mengatakan bahwa tidak membutuhkan pelatih defense dan menegaskan bahwa anak anak baru seperti Lallana, Balotelli, Markovic, dan pembelian lainnya masih belum menyatu dengan skema permainan Liverpool.
Kehilangan Suarez merongrong seluruh kekuatan Liverpool ditambah lagi dengan absennya Sturridge karena cedera semakin membuat daya gedor lini serang semakin tak bergigi. Bahkan saking tak bergiginya sampai sampai Caulker dan Dunn yang akhirnya memasukkan bola ke dalam gawangnya sendiri karena mungkin frustasi melihat serangan Liverpool tak sekalipun membahayakan gawang mereka. Kehilangan Suarez benar benar berdampak sistemik (meminjam istilah kasus Bank Century) terhadap kekuatan Liverpool, bukan hanya karena kehilangan tukang cetak gol dan assist tapi karena Suarez adalah garis pertahanan pertama yang bertugas melakukan pressing dan intimidasi kepada bek bek dan gelandang bertahan lawan sehingga tidak leluasa membangun serangan dari bawah. Bek lawan akan panik dan tidak leluasa memainkan bola ketika melihat Suarez mendekat karena jika kehilangan bola sama saja dengan bunuh diri. Pressure terhadap bek lawan lah yang musim ini tidak dimiliki oleh Liverpool, Balotelli jelas tidak mampu memberikan rasa takut karena dia adalah tipikal striker statis yang coverage nya tidak luas sehingga bek lawan akan dengan leluasa memainkan bola untuk membangun serangan.
Masalah pertahanan sendiri sudah terlihat sejak musim 2012/2013 di mana Liverpool kemasukan 47 gol, turun dari musim sebelumnya yang mana kemasukan 40 gol. Rodgers adalah pelatih yang memainkan taktik menyerang sehingga kebobolan sampai 50 gol musim lalu tertutupi oleh 101 gol yang berhasil disarangkan ke gawang musuh. Liverpool di era King Kenny hanya mampu memasukkan 47 gol, sedangkan Rodgers di musim pertamanya berhasil membuat Liverpool mencetak 71 gol. Peningkatan yang signifikan menunjukkan bahwa Rodgers membenahi Liverpool dimulai dari lini depan dan musim lalu kemampuan lini serang sudah tak diragukan lagi.
Di bursa transfer musim panas 2014 Liverpool melepas Suarez (pemain yang berkontribusi terhadap 40% gol tim) ke Barcelona sekaligus memecahkan rekor penjualan sebelumnya atas nama Fernando Torres. Disinilah cobaan itu dimulai, Rodgers harus bisa memaksimalkan dana hasil penjualan Suarez dan mendatangkan pemain pemain berkualitas lainnya yang bisa menambal lubang yang ditinggalkan Suarez (walaupun tidak mungkin). Berhubung tidak mungkin mendatangkan pengganti yang sepadan dengan Luis Suarez maka Liverpool pun berinvestasi dengan mendatangkan sejumlah pemain muda berbakat untuk mengisi slot lapangan tengah dan membeli sejumlah pemain bertahan.
Ternyata membeli pemain bertahan baru pun tidak bisa membuat pertahan Liverpool membaik, malah semakin terlihat seperti pertahanan tim tim yang baru promosi. Sistem pertahanan adalah masalah utama, bukan individu seperti Lovren, Manquillo, ataupun Moreno. Saya melihat baik SKrtel maupun Lovren hampir selalu memenangi aerial duel ketika ada longpass menuju area pertahanan, namun keduanya menjadi tak berdaya ketika menghadapi set pieces. Liverpool telah kebobolan 12 gol musim ini dan hanya sekali berhasil clean sheet yaitu ketika bertandang ke White Hart Lane.
Isu pertahanan membuat ROdgers gerah dan akhirnya meskipun baru saja dihajar Madrid 3 gol tanpa balas di Anfield dia melontarkan pernyataan bahwa Liverpool tidak membutuhkan pelatih defense (what a banter). Rodgers menegaskan bahwa Liverpool harus tetap menyerang dan atraktif, tidak memarkir pemain (walaupun saya tidak yakin Liverpool bisa memainkan strategi parkir bis) dan mementingkan hasil akhir. Keras kepalanya Rodgers membuat saya salut, dia tidak peduli dengan ocehan orang lain (termasuk carragher dan gary neville) dan tetap mempertahankan filosofi menyerangnya untuk membangun kembali kejayaan tim Merseyside Red (wait, what glory?).
Saya yakin Rodgers akan berhasil mengatasi persoalan lini serang Liverpool seiring dengan berjalannya waktu (tsaaahhh), masih ada 30 pertandingan tersisa dan sekarang LFC ada di peringkat 5 diatas Arsenal, Manchester United, dan Everton. Di saat Sturridge cedera dan tim masih belum padu Liverpool masih berada di peringkat 5, apalagi yang harus diragukan? Dengan kembalinya Sturridge serta semakin klopnya anak baru dengan filosofi Rodgers saya yakin Liverpool masih bisa finish di 4 besar EPL serta melangkah jauh di turnamen turnamen lainnya. Lagipula ROdgers telah berhasil melampaui target awal ketika ditunjuk sebagai pelatih yang mana target Rodgers pada saat itu adalah membawa Liverpool kembali ke UCL dalam waktu 3 tahun (sekarang tahun ketiga dan LFC sudah di UCL).
Saya memang tidak pernah berharap untuk cleansheet, karena cleansheet tanpa mencetak gol toh percuma. Bahkan jikapun Carragher dan Hyppia terlahir muda kembali saya tidak yakin mereka bisa mengatasi masalah di lini pertahanan karena memang sudah dari taktik Rodgersnya yang seperti itu. Masih ingat ketika dilatih King Kenny? LFC kesulitan mencetak gol meskipun pertahanan terbilang cukup tangguh dan hanya bisa finnish di tempat ke 8. Shit defense, great attack itulah yang saya harapkan dari anak asuh Brendan musim ini. Mari kita tunggu sampai dengan Desember apakah kemampuan mencetak gol Liverpool akan kembali atau malah mengulangi musim 2011/2012...
IN RODGERS WE MUST TRUST !!!
Kehilangan Suarez merongrong seluruh kekuatan Liverpool ditambah lagi dengan absennya Sturridge karena cedera semakin membuat daya gedor lini serang semakin tak bergigi. Bahkan saking tak bergiginya sampai sampai Caulker dan Dunn yang akhirnya memasukkan bola ke dalam gawangnya sendiri karena mungkin frustasi melihat serangan Liverpool tak sekalipun membahayakan gawang mereka. Kehilangan Suarez benar benar berdampak sistemik (meminjam istilah kasus Bank Century) terhadap kekuatan Liverpool, bukan hanya karena kehilangan tukang cetak gol dan assist tapi karena Suarez adalah garis pertahanan pertama yang bertugas melakukan pressing dan intimidasi kepada bek bek dan gelandang bertahan lawan sehingga tidak leluasa membangun serangan dari bawah. Bek lawan akan panik dan tidak leluasa memainkan bola ketika melihat Suarez mendekat karena jika kehilangan bola sama saja dengan bunuh diri. Pressure terhadap bek lawan lah yang musim ini tidak dimiliki oleh Liverpool, Balotelli jelas tidak mampu memberikan rasa takut karena dia adalah tipikal striker statis yang coverage nya tidak luas sehingga bek lawan akan dengan leluasa memainkan bola untuk membangun serangan.
Masalah pertahanan sendiri sudah terlihat sejak musim 2012/2013 di mana Liverpool kemasukan 47 gol, turun dari musim sebelumnya yang mana kemasukan 40 gol. Rodgers adalah pelatih yang memainkan taktik menyerang sehingga kebobolan sampai 50 gol musim lalu tertutupi oleh 101 gol yang berhasil disarangkan ke gawang musuh. Liverpool di era King Kenny hanya mampu memasukkan 47 gol, sedangkan Rodgers di musim pertamanya berhasil membuat Liverpool mencetak 71 gol. Peningkatan yang signifikan menunjukkan bahwa Rodgers membenahi Liverpool dimulai dari lini depan dan musim lalu kemampuan lini serang sudah tak diragukan lagi.
Di bursa transfer musim panas 2014 Liverpool melepas Suarez (pemain yang berkontribusi terhadap 40% gol tim) ke Barcelona sekaligus memecahkan rekor penjualan sebelumnya atas nama Fernando Torres. Disinilah cobaan itu dimulai, Rodgers harus bisa memaksimalkan dana hasil penjualan Suarez dan mendatangkan pemain pemain berkualitas lainnya yang bisa menambal lubang yang ditinggalkan Suarez (walaupun tidak mungkin). Berhubung tidak mungkin mendatangkan pengganti yang sepadan dengan Luis Suarez maka Liverpool pun berinvestasi dengan mendatangkan sejumlah pemain muda berbakat untuk mengisi slot lapangan tengah dan membeli sejumlah pemain bertahan.
Ternyata membeli pemain bertahan baru pun tidak bisa membuat pertahan Liverpool membaik, malah semakin terlihat seperti pertahanan tim tim yang baru promosi. Sistem pertahanan adalah masalah utama, bukan individu seperti Lovren, Manquillo, ataupun Moreno. Saya melihat baik SKrtel maupun Lovren hampir selalu memenangi aerial duel ketika ada longpass menuju area pertahanan, namun keduanya menjadi tak berdaya ketika menghadapi set pieces. Liverpool telah kebobolan 12 gol musim ini dan hanya sekali berhasil clean sheet yaitu ketika bertandang ke White Hart Lane.
Isu pertahanan membuat ROdgers gerah dan akhirnya meskipun baru saja dihajar Madrid 3 gol tanpa balas di Anfield dia melontarkan pernyataan bahwa Liverpool tidak membutuhkan pelatih defense (what a banter). Rodgers menegaskan bahwa Liverpool harus tetap menyerang dan atraktif, tidak memarkir pemain (walaupun saya tidak yakin Liverpool bisa memainkan strategi parkir bis) dan mementingkan hasil akhir. Keras kepalanya Rodgers membuat saya salut, dia tidak peduli dengan ocehan orang lain (termasuk carragher dan gary neville) dan tetap mempertahankan filosofi menyerangnya untuk membangun kembali kejayaan tim Merseyside Red (wait, what glory?).
Saya yakin Rodgers akan berhasil mengatasi persoalan lini serang Liverpool seiring dengan berjalannya waktu (tsaaahhh), masih ada 30 pertandingan tersisa dan sekarang LFC ada di peringkat 5 diatas Arsenal, Manchester United, dan Everton. Di saat Sturridge cedera dan tim masih belum padu Liverpool masih berada di peringkat 5, apalagi yang harus diragukan? Dengan kembalinya Sturridge serta semakin klopnya anak baru dengan filosofi Rodgers saya yakin Liverpool masih bisa finish di 4 besar EPL serta melangkah jauh di turnamen turnamen lainnya. Lagipula ROdgers telah berhasil melampaui target awal ketika ditunjuk sebagai pelatih yang mana target Rodgers pada saat itu adalah membawa Liverpool kembali ke UCL dalam waktu 3 tahun (sekarang tahun ketiga dan LFC sudah di UCL).
Saya memang tidak pernah berharap untuk cleansheet, karena cleansheet tanpa mencetak gol toh percuma. Bahkan jikapun Carragher dan Hyppia terlahir muda kembali saya tidak yakin mereka bisa mengatasi masalah di lini pertahanan karena memang sudah dari taktik Rodgersnya yang seperti itu. Masih ingat ketika dilatih King Kenny? LFC kesulitan mencetak gol meskipun pertahanan terbilang cukup tangguh dan hanya bisa finnish di tempat ke 8. Shit defense, great attack itulah yang saya harapkan dari anak asuh Brendan musim ini. Mari kita tunggu sampai dengan Desember apakah kemampuan mencetak gol Liverpool akan kembali atau malah mengulangi musim 2011/2012...
IN RODGERS WE MUST TRUST !!!
Thursday, September 4, 2014
Kejutan Dari Skuad Baru Bayer Leverkusen
Bayer Leverkusen sejatinya musim lalu diprediksikan akan bisa mengganggu dominasi Bayern Munchen dan Borussia Dortmund di pentas Bundesliga setelah pada musim 2012/2013 berhasil finish di peringkat 3 dengan Stefan Kiessling sebagai top skornya. Namun kepergian Schurrle dan Carvajal membuat musim 2013/2014 menjadi begitu berat bagi tim yang pada saat itu dilatih oleh Sami Hyppia, apalagi Heung Min SOn dan Donati yang diplot untuk menggantikan peran kedua pemain penting tersebut gagal mengangkat performa tim. Leverkusen gagal mengganggu dominasi Munchen dan Dortmund, bahkan mereka nyaris gagal ke Liga Champions andai saja Wolfsburg bisa konsisten hingga pertandingan terakhir Bundesliga musim itu. Sami Hyppia pun dipecat pada bulan April karena dianggap gagal, taktik counter attacknya tak lagi berjalan mulus pasca fullback andalannya (Dani Carvajal) diganti oleh Donati, fullback timnas U-21 Italia yang kalah di final melawan Spanyol. Donati tak segarang Carvajal di sektor kanan sehingga skema counter attack Sami tak lagi menakutkan seperti musim sebelumnya.
Leverkusen menunjuk manajer Red Bull Salzburg, Roger Schmidt sebagai suksesor Sami Hyppia untuk mengarungi ketatnya musim 2014/2015 ini. Rudi Voeller pun bergerak cepat di bursa transfer, setelah kepergian Emre Can ke Liverpool mereka langsung mendatangkan Hakan Calhanoglu, Josip Drmic, Wendell, Tin Jedvaj, serta meminjam Kyriakos Papadopoulos. Sejumlah pemain pinjaman pun telah kembali dari masa peminjaman termasuk Karim Bellarabi yang baru saja selesai dari Braunschweig.
Dengan datangnya Hakan Calhanoglu maka formasi Leverkusen pun berubah dari sebelumnya 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 dan Calhanoglu dimainkan di belakang striker. Hengkangnya Sidney Sam tidak membuat Roger panik karena dia telah mendapatkan penggantinya pada seorang Karim Bellarabi, pemain yang mencetak satu gol dan satu assist ketika Leverkusen berhasil Dortmund di kandangnya sendiri dengan skor 0-2.
Berhasil menaklukkan Dortmund di Iduna Park sudah menjadi bukti bahwa Leverkusen tidak bisa dianggap remeh musim ini terlebih setelah anak asuh Roger Schmidt ini menyingkirkan FC Copenhagen dengan aggregat 7-2 untuk memastikan satu tempat di babak grup Liga Champions. Kombinasi pemain senior dan junior berjalan dengan baik sejauh ini, terlebih setelah bergabungnya pemain pemain baru. Hakan sendiri baru berumur 20 tahun, Tin Jedvad 18 tahun, sementara kiper yang menjadi pahlawan melawan Dortmund, Bern Leno genap 22 tahun. Mereka bergabung dengan Kiessling (30 tahun), Emir Spahic (34 tahun), dan Rolfes (32 tahun) untuk menjadikan Leverkusen sebagai penantang serius Bayern Munchen musim ini.
Leverkusen menunjuk manajer Red Bull Salzburg, Roger Schmidt sebagai suksesor Sami Hyppia untuk mengarungi ketatnya musim 2014/2015 ini. Rudi Voeller pun bergerak cepat di bursa transfer, setelah kepergian Emre Can ke Liverpool mereka langsung mendatangkan Hakan Calhanoglu, Josip Drmic, Wendell, Tin Jedvaj, serta meminjam Kyriakos Papadopoulos. Sejumlah pemain pinjaman pun telah kembali dari masa peminjaman termasuk Karim Bellarabi yang baru saja selesai dari Braunschweig.
Dengan datangnya Hakan Calhanoglu maka formasi Leverkusen pun berubah dari sebelumnya 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 dan Calhanoglu dimainkan di belakang striker. Hengkangnya Sidney Sam tidak membuat Roger panik karena dia telah mendapatkan penggantinya pada seorang Karim Bellarabi, pemain yang mencetak satu gol dan satu assist ketika Leverkusen berhasil Dortmund di kandangnya sendiri dengan skor 0-2.
Berhasil menaklukkan Dortmund di Iduna Park sudah menjadi bukti bahwa Leverkusen tidak bisa dianggap remeh musim ini terlebih setelah anak asuh Roger Schmidt ini menyingkirkan FC Copenhagen dengan aggregat 7-2 untuk memastikan satu tempat di babak grup Liga Champions. Kombinasi pemain senior dan junior berjalan dengan baik sejauh ini, terlebih setelah bergabungnya pemain pemain baru. Hakan sendiri baru berumur 20 tahun, Tin Jedvad 18 tahun, sementara kiper yang menjadi pahlawan melawan Dortmund, Bern Leno genap 22 tahun. Mereka bergabung dengan Kiessling (30 tahun), Emir Spahic (34 tahun), dan Rolfes (32 tahun) untuk menjadikan Leverkusen sebagai penantang serius Bayern Munchen musim ini.
Friday, August 29, 2014
Mitos Edisi Kedua
Pada awal musim 2013/2014 Liverpool mendatangkan Mamadou Sakho dari klub kaya raya asal kota mode, Paris Saint Germain dengan mahar 15 juta pound. Sakho pun menjadi marquee signing Brendan Rodgers pada bursa transfer musim panas tersebut setelah sebelumnya juga mendatangkan Iago (Corner) Aspas, Luis (bench) Alberto, Simon Mignolet, dan Tiago (loan) Ilori (mohon maaf untuk para pemain pinjaman dan free transfer tidak disebut karena keterbatan waktu dalam mengetik nama mereka). Sakho adalah seorang LCB kidal dan memiliki posisi yang sama dengan Daniel Agger yang merupakan bek terbaik Liverpool di musim sebelumnya. Spekulasi pun bermunculan tentang bagaimana cara memainkan Sakho dan Agger bersamaan karen jarang dijumpai ada duet bek tengah yang sama sama kidal. Pembelian Sakho yang merupakan LCB pun membingungkan karena sebenarnya Liverpool membutuhkan RCB untuk berduet dengan Agger pasca pensiunnya Carragher dan Skrtel yang tak pernah lagi mendapatkan tempat utama pasca laga melawan Oldham di FA Cup.
Musim 2013/2014 berjalan dan Sakho tak kunjung berduet dengan Daniel Agger di lini belakang Anfield Gank, bahkan malah Skrtel yang posisinya tak tergantikan sampai musim berakhir. Nasib Agger kini semakin tidak jelas dan Skrtel yang sekarang tenang tenang saja karena posisinya aman sebagai bek tengah andalan Brendan. Roda memang berputar dengan sangat cepat, jadi Sakho didatangkan bukan untuk berduet dengan Agger tapi untuk bersaing dan hasilnya sang marquee signing yang menjadi pilihan utama.
Transfer musim panas kali ini Liverpool menebus Dejan Lovren dari Southampton seharga 20 juta pound dan diharapkan bisa menambal lubang di lini pertahanan. Namun ternyata meskipun bukan kidal, Lovren adalah LCB sama seperti Sakho dan kembali mitos duet LCB menghantui. Bisakah dua LCB bermain bersamaan? Lantas bagaimana nasib Sakho? Hingga pekan ke dua belum sekalipun brendan memainkan Sakho, dua laga awal selalu duet Skrtel-Lovren yang menjadi pilihan utama Brendan. Sambil menunggu pekan pekan bergulir mari kita nantikan mitos edisi ke dua kali ini... YNWA
Musim 2013/2014 berjalan dan Sakho tak kunjung berduet dengan Daniel Agger di lini belakang Anfield Gank, bahkan malah Skrtel yang posisinya tak tergantikan sampai musim berakhir. Nasib Agger kini semakin tidak jelas dan Skrtel yang sekarang tenang tenang saja karena posisinya aman sebagai bek tengah andalan Brendan. Roda memang berputar dengan sangat cepat, jadi Sakho didatangkan bukan untuk berduet dengan Agger tapi untuk bersaing dan hasilnya sang marquee signing yang menjadi pilihan utama.
Transfer musim panas kali ini Liverpool menebus Dejan Lovren dari Southampton seharga 20 juta pound dan diharapkan bisa menambal lubang di lini pertahanan. Namun ternyata meskipun bukan kidal, Lovren adalah LCB sama seperti Sakho dan kembali mitos duet LCB menghantui. Bisakah dua LCB bermain bersamaan? Lantas bagaimana nasib Sakho? Hingga pekan ke dua belum sekalipun brendan memainkan Sakho, dua laga awal selalu duet Skrtel-Lovren yang menjadi pilihan utama Brendan. Sambil menunggu pekan pekan bergulir mari kita nantikan mitos edisi ke dua kali ini... YNWA
Tuesday, August 19, 2014
Problem Menentukan Duet Bek Tengah
Premier League musim 2013/2014 baru saja dimulai, kini penikmat sepakbola tanah Inggris kembali memiliki tontonan di akhir pekan setelah libur kurang lebih 3 bulan lamanya. Anggota "BIG FOUR" sukses mengamankan poin sempurna di partai pembuka kali ini untuk menunjukkan bahwa mereka siap bersaing untuk mengangkat trofi liga di akhir musim. Tentu saja saya tidak perlu menjelaskan secara spesifik siapa saja yang dimaksud dengan "BIG FOUR" karena tidak mungkin peringkat 14 disebut "BIG FOUR". AMIRITE?
Lupakan tentang BIG FOUR karena itu bukanlah topik pembahasan kali ini, yang menjadi topik kali ini adalah Martin Skrtel, bek tengah Liverpool yang musim lalu mendapatkan penghargaan sebagai Defender Terbaik versi whoscored. Terlepas dari layak atau tidaknya Skrtel mendapatkan penghargaan tersebut tentu saja hal tersebut bukan merupakan urusan saya karena whoscored punya formula dan standar sendiri dalam menilai pemain berdasarkan statistik dan bukan omong kosong di twitter apalagi kompilasi video di Youtube.
Martin Skrtel kembali menjadi pilihan utama Brendan Rodgers di musim ini, pada laga pembuka EPL minggu lalu bek asal Slovakia ini berduet dengan Dejan Lovren di jantung pertahanan Liverpool yang berarti Sakho harus rela menjadi benchwarmer pada laga kali ini. Disinilah saya secara pribadi agak heran dengan pilihan Rodgers, Skrtel berhasil membuat Mamadou Sakho (bek yang tampil luar biasa apik selama pergelaran World Cup 2014) hanya duduk manis di bangku cadangan. Berarti dapat di simpulkan bahwa bek 17 juta pound harus bersaing dengan bek 20 juta pound untuk memperebutkan satu tempat di sisi Skrtel.
Namun patut disadari bahwa meskipun "right footed" ternyata Dejan Lovren bukanlah RCB seperti Skrtel, dia lebih sering dimainkan sebagai LCB oleh Pocchetino musim lalu di Southampton. Dengan demikian berarti Lovren harus bersaing dengan Sakho untuk menjadi starting eleven, padahal saya berharap Sakho dan Lovren yang menjadi tembok pertahanan Liverpool. Rodgers tentu punya pertimbangan yang matang mengenai keputusan ini dan kita tahu bahwa mantan pelatih Swansea ini selalu punya cara untuk mengatasi masalah seperti ini. Musim lalu banyak yang ragu apakah Sturridge dan Suarez bisa bermain bersamaan dan Rodgers berhasil mengotak atik formasi untuk menyatukan mereka sehingga keduanya menjadi duet striker paling mematikan di Liga Inggris. Artinya jangan pernah ragu mengenai masalah Sakho dan Lovren ini, manager Liverpool pasti punya cara untuk menjadikan mereka sebagi duet bek terbaik seperti yang dilakukannya terhadap duet SAS musim lalu.
Sekarang pertanyaanya adalah apakah betul Skrtel tidak sebaik Sakho dan Lovren? Untuk laga pertama saya mencoba membuka whoscored dan squawka untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini karena saya tidak paham mengenai cara bermain yang baik dan benar jadi saya hanya membuat kesimpulan berdasarkan dari statistik yang disediakan oleh kedua situs ini.
Yang pertama adalah berdasarkan whoscored, Skrtel mendapatkan rating 8.5 di laga melawan Southampton dan hanya Raheem Sterling yang ratingnya lebih baik di Liverpool (8.9), bahkan Skrtel menempati urutan ketujuh dari seluruh pemain EPL, berdasarkan rating whoscored Skrtel lebih baik dari Lovren (7.6).
Berikut ini adalah statistik lain perbandingan Lovren dan Skrtel.
Sedangkan menurut squawka bahkan Skrtel meraih skor tertinggi yaitu 67, lebih baik dari Sterling (60) dan Lovren (46). Memang statistik tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan dalam menentukan baik atau tidaknya pemain, tapi statistik juga tidak bisa berbohong (tidak seperti kompilasi video di youtube). Skrtel memenangi 7 dari 8 aerial duelnya yang menunjukkan bahwa sekiranya Skrtel masih tangguh untuk urusan duel udara meskipun belum berduel dengan striker striker raksasa.
Karena baru satu pertandingan tentu saja saya tidak bisa mengatakan apakah Skrtel lebih baik atau tidak dari Lovren dan Sakho, namun yang pasti Skrtel adalah salah satu pemain kunci Liverpool di sektor pertahanan musim lalu.
Lupakan tentang BIG FOUR karena itu bukanlah topik pembahasan kali ini, yang menjadi topik kali ini adalah Martin Skrtel, bek tengah Liverpool yang musim lalu mendapatkan penghargaan sebagai Defender Terbaik versi whoscored. Terlepas dari layak atau tidaknya Skrtel mendapatkan penghargaan tersebut tentu saja hal tersebut bukan merupakan urusan saya karena whoscored punya formula dan standar sendiri dalam menilai pemain berdasarkan statistik dan bukan omong kosong di twitter apalagi kompilasi video di Youtube.
Martin Skrtel kembali menjadi pilihan utama Brendan Rodgers di musim ini, pada laga pembuka EPL minggu lalu bek asal Slovakia ini berduet dengan Dejan Lovren di jantung pertahanan Liverpool yang berarti Sakho harus rela menjadi benchwarmer pada laga kali ini. Disinilah saya secara pribadi agak heran dengan pilihan Rodgers, Skrtel berhasil membuat Mamadou Sakho (bek yang tampil luar biasa apik selama pergelaran World Cup 2014) hanya duduk manis di bangku cadangan. Berarti dapat di simpulkan bahwa bek 17 juta pound harus bersaing dengan bek 20 juta pound untuk memperebutkan satu tempat di sisi Skrtel.
Namun patut disadari bahwa meskipun "right footed" ternyata Dejan Lovren bukanlah RCB seperti Skrtel, dia lebih sering dimainkan sebagai LCB oleh Pocchetino musim lalu di Southampton. Dengan demikian berarti Lovren harus bersaing dengan Sakho untuk menjadi starting eleven, padahal saya berharap Sakho dan Lovren yang menjadi tembok pertahanan Liverpool. Rodgers tentu punya pertimbangan yang matang mengenai keputusan ini dan kita tahu bahwa mantan pelatih Swansea ini selalu punya cara untuk mengatasi masalah seperti ini. Musim lalu banyak yang ragu apakah Sturridge dan Suarez bisa bermain bersamaan dan Rodgers berhasil mengotak atik formasi untuk menyatukan mereka sehingga keduanya menjadi duet striker paling mematikan di Liga Inggris. Artinya jangan pernah ragu mengenai masalah Sakho dan Lovren ini, manager Liverpool pasti punya cara untuk menjadikan mereka sebagi duet bek terbaik seperti yang dilakukannya terhadap duet SAS musim lalu.
Sekarang pertanyaanya adalah apakah betul Skrtel tidak sebaik Sakho dan Lovren? Untuk laga pertama saya mencoba membuka whoscored dan squawka untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini karena saya tidak paham mengenai cara bermain yang baik dan benar jadi saya hanya membuat kesimpulan berdasarkan dari statistik yang disediakan oleh kedua situs ini.
Yang pertama adalah berdasarkan whoscored, Skrtel mendapatkan rating 8.5 di laga melawan Southampton dan hanya Raheem Sterling yang ratingnya lebih baik di Liverpool (8.9), bahkan Skrtel menempati urutan ketujuh dari seluruh pemain EPL, berdasarkan rating whoscored Skrtel lebih baik dari Lovren (7.6).
Berikut ini adalah statistik lain perbandingan Lovren dan Skrtel.
Sedangkan menurut squawka bahkan Skrtel meraih skor tertinggi yaitu 67, lebih baik dari Sterling (60) dan Lovren (46). Memang statistik tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan dalam menentukan baik atau tidaknya pemain, tapi statistik juga tidak bisa berbohong (tidak seperti kompilasi video di youtube). Skrtel memenangi 7 dari 8 aerial duelnya yang menunjukkan bahwa sekiranya Skrtel masih tangguh untuk urusan duel udara meskipun belum berduel dengan striker striker raksasa.
Karena baru satu pertandingan tentu saja saya tidak bisa mengatakan apakah Skrtel lebih baik atau tidak dari Lovren dan Sakho, namun yang pasti Skrtel adalah salah satu pemain kunci Liverpool di sektor pertahanan musim lalu.
Wednesday, June 25, 2014
Meksiko, Negara 16 Besar Piala Dunia
Tanggal 23 Juni 2014 jam 17.00 di Arena Pernambuco digelar laga hidup mati penentuan siapa yang akan lolos ke babak 16 besar antara Kroasia dan Meksiko. Kedua tim ini harus saling "bunuh" untuk memperebutkan jatah terakhir karena Brazil selaku tuan rumah akan menghadapi Kamerun (tim yang telah kalah dua kali, jadi tidak ada alasan bagi Brazil untuk gagal menang dan pada akhirnya memang Neymar dan rekan rekannya berhasil membantai Kamerun 4-1). Meksiko hanya perlu hasil seri untuk lolos sedangkan Kroasia wajib menang, sehingga tidak ada alasan bagi Luka Modric untuk bertelanjang ria sebelum menghadapi Meksiko.
Kroasia tentu saja lebih diunggulkan dengan bermaterikan sejumlah pemain yang bermain di klub top eropa seperti Luka Modric (Real Madrid), Mandzukic (Bayern Munchen), Ivan rakitic (Sevilla, dan baru saja bergabung ke Barcelona), dan Kovacic (Inter Milan). Meksiko kebanyakan memakai pemain Liga lokal mereka termasuk sang kapten Marquez, hanya Javier "Chicarito" Hernandez yang bermain di Liga Inggris dan itupun hanya menjadi pelapis dari Danny Wellbeck (tentu saja kemudian semua orang paham kenapa Miguel Herrera lebih memilih Peralta ketimbang Chicarito, bagaimana mungkin anda akan memakai penyerang yang hanya merupakan pelapis Welbeck di ajang sekelas Piala Dunia).
Namun ternyata meskipun diperkuat oleh pemain top, Kroasia tidak bisa berbuat banyak ketika menghadapi Meksiko dan mereka kandas 1-3 sekaligus harus bersiap siap mengemas kopernya untuk menyusul Spanyol dan Inggris. Rakitic pun bisa langsung mengunjungi markas klub barunya untuk sesi foto foto sehingga akun twitter @barcastuff punya sejumlah foto untuk diuploadnya untuk menghibur para followernya yang kecewa setelah Barcelona gagal di tiga kompetisi musim ini.
Meksiko berhasil menjaga tradisi mereka yang selalu lolos ke babak 16 besar sejak tahun 1994, bahkan tim yang diperkuat oleh pemain juara UCL tidak mampu membendung mereka, sungguh penegasan bahwa tradisi tidak bisa dianggap remeh di ajang Piala Dunia. Inggris (terutama Roy Hodgson) harus mencontoh bagaimana cara Meksiko menjaga tradisi mereka di Piala Dunia bukan malah membuat rekor baru dengan pulang awal seperti yang terjadi barusan.
Rekor Meksiko unik, mereka memang selalu berhasil lolos dari babak grup di Piala Dunia sejak tahun 1994, namun benar benar sebatas sampai di babak 16 saja tidak pernah lebih. Meksiko kesulitan untuk bisa mengulangi pencapaian di tahun 1970 dan 1986 ketika mereka berhasil menembus perempat final. Memang Piala Dunia tak semudah piala emas Concacaf di mana saingan Meksiko hanyalah Amerika Serikat yang lebih doyan melakukan touch down atau slam dunk ketimbang mencetak gol, jadilah Meksiko penguasa sejati di zona Concacaf.
Finish sebagai runner-up grup A membuat Meksiko harus menghadapi Belanda yang sedang onfire dengan 3 kemenangan di grup B dan peluang meksiko untuk memperpanjang rekor mereka yang selalu berakhir pada babak 16 besar di 20 tahun terakhir Piala Dunia akan kembali menguat. Sebenarnya mereka berhasil terhindar dari Argentina yang selalu menyingkirkan mereka pada babak 16 besar di dua edisi terakhir Piala Dunia, namun dengan harus bertemu Belanda tampaknya meksiko harus bersiap untuk memperpanjang catatan mereka sebagai "spesialis 16 besar Piala Dunia".
Rafael Marquez tentu saja ingin Meksiko melangkah lebih jauh di Piala Dunia kali ini, namun seperti yang kita tahu bahwa Robben selalu saja berlari jadi tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa menghentikan Robben dengan hanya "melangkah lebih jauh"...kecuali Robben terpeleset
Kroasia tentu saja lebih diunggulkan dengan bermaterikan sejumlah pemain yang bermain di klub top eropa seperti Luka Modric (Real Madrid), Mandzukic (Bayern Munchen), Ivan rakitic (Sevilla, dan baru saja bergabung ke Barcelona), dan Kovacic (Inter Milan). Meksiko kebanyakan memakai pemain Liga lokal mereka termasuk sang kapten Marquez, hanya Javier "Chicarito" Hernandez yang bermain di Liga Inggris dan itupun hanya menjadi pelapis dari Danny Wellbeck (tentu saja kemudian semua orang paham kenapa Miguel Herrera lebih memilih Peralta ketimbang Chicarito, bagaimana mungkin anda akan memakai penyerang yang hanya merupakan pelapis Welbeck di ajang sekelas Piala Dunia).
Namun ternyata meskipun diperkuat oleh pemain top, Kroasia tidak bisa berbuat banyak ketika menghadapi Meksiko dan mereka kandas 1-3 sekaligus harus bersiap siap mengemas kopernya untuk menyusul Spanyol dan Inggris. Rakitic pun bisa langsung mengunjungi markas klub barunya untuk sesi foto foto sehingga akun twitter @barcastuff punya sejumlah foto untuk diuploadnya untuk menghibur para followernya yang kecewa setelah Barcelona gagal di tiga kompetisi musim ini.
Meksiko berhasil menjaga tradisi mereka yang selalu lolos ke babak 16 besar sejak tahun 1994, bahkan tim yang diperkuat oleh pemain juara UCL tidak mampu membendung mereka, sungguh penegasan bahwa tradisi tidak bisa dianggap remeh di ajang Piala Dunia. Inggris (terutama Roy Hodgson) harus mencontoh bagaimana cara Meksiko menjaga tradisi mereka di Piala Dunia bukan malah membuat rekor baru dengan pulang awal seperti yang terjadi barusan.
Rekor Meksiko unik, mereka memang selalu berhasil lolos dari babak grup di Piala Dunia sejak tahun 1994, namun benar benar sebatas sampai di babak 16 saja tidak pernah lebih. Meksiko kesulitan untuk bisa mengulangi pencapaian di tahun 1970 dan 1986 ketika mereka berhasil menembus perempat final. Memang Piala Dunia tak semudah piala emas Concacaf di mana saingan Meksiko hanyalah Amerika Serikat yang lebih doyan melakukan touch down atau slam dunk ketimbang mencetak gol, jadilah Meksiko penguasa sejati di zona Concacaf.
Finish sebagai runner-up grup A membuat Meksiko harus menghadapi Belanda yang sedang onfire dengan 3 kemenangan di grup B dan peluang meksiko untuk memperpanjang rekor mereka yang selalu berakhir pada babak 16 besar di 20 tahun terakhir Piala Dunia akan kembali menguat. Sebenarnya mereka berhasil terhindar dari Argentina yang selalu menyingkirkan mereka pada babak 16 besar di dua edisi terakhir Piala Dunia, namun dengan harus bertemu Belanda tampaknya meksiko harus bersiap untuk memperpanjang catatan mereka sebagai "spesialis 16 besar Piala Dunia".
Rafael Marquez tentu saja ingin Meksiko melangkah lebih jauh di Piala Dunia kali ini, namun seperti yang kita tahu bahwa Robben selalu saja berlari jadi tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa menghentikan Robben dengan hanya "melangkah lebih jauh"...kecuali Robben terpeleset
Subscribe to:
Posts (Atom)
