Thursday, December 26, 2013

Menanti Peforma Kelly

Martin Kelly, pemain belakang yang begitu digilai sejumlah penggemar Liverpool dari kaum hawa. Selain karena masih muda, besar tinggi, dan memiliki wajah seperti John Mayer (untuk poin terakhir silakan anda lihat dan nilai sendiri, saya hanya memakai anggapan dari admin akun @IndoSteviG) Kelly juga merupakan salah satu bek kanan asli akademi yang dianggap memiliki prospek cerah untuk bisa menjadi bek kanan masa depan Liverpool. Meskipun memiliki postur yang tinggi, sprint Kelly mampu mengimbangi winger winger EPL sehingga sektor kanan sangat sulit dilewati ketika dia menempati pos tersebut.

Namun apadaya ternyata cedera yang dialaminya ketika pertandingan melawan Manchester United tahun lalu membuatnya harus absen selama semusim. Krisis bek kanan itulah yang kemudian membuat Andre Wisdom berhasil beberapa kali menjadi starter di sejumlah pertandingan EPL dan Europe League. Kelly baru sembuh setelah musim berakhir dan sempat bermain ketika melawan Preston di laga Pre-Season, dia juga mengikuti tur Liverpool ke Asia pada bulan Juli.

Pemain berumur 23 tahun ini comeback dari cedera panjang pada laga Liverpool melawan WBA sebagai pemain pengganti pada menit ke 62, ketika Liverpool menjamu West Ham pun Kelly sempat bermain selama 11 menit. Baru ketika minggu lalu menghadapi Cardiff di Anfield lah Martin Kelly mendapatkan menit bermain yang lumayan banyak setelah dimasukkan Brendan Rodgers pada menit ke 55 untuk menggantikan Flanagan.

Harus diakui peforma Kelly di 35 menit tersebut masih jauh dari yang diharapkan, dia seperti kebingungan dengan posisinya sendiri dan berkali kali dilewati oleh lawan. Kelly sudah tak seperti beberapa musim lalu, dia tidak mungkin  bisa dilewati dengan semudah itu karena kedisiplinannya mengawal sisi kanan. Melihat peforma Kelly pun banyak orang berkicau bahwa keputusan Rodgers untuk menarik Flanagan terlalu dini, karena memang kemudian Liverpool kebobolan satu gol yang lagi lagi lewat set pieces.

Nanti malam Liverpool akan bertandang ke Etihad Stadium, tempat di mana pada musim ini semua lawan tidak ada satupun yang bisa pulang membawa poin dari sana. Etihad Stadium mendadak menjadi tempat paling angker saat ini, mungkin sama angkernya dengan segitiga bermuda, tidak ada orang yang selamat ketika ke sana.
Dan celakanya, beredar isu kalau "The Scouse Cafu" sedang mengalami cedera dan terancam tidak bisa memperkuat Liverpool nanti malam, padahal dia sedang mengalami masa masa terbaiknya di Liverpool. Jika beberapa minggu yang lalu orang orang panik karena Flanagan yang dipasang Rodgers di bek kiri, sekarang mereka panik karena Flanagan harus absen.........people

Jika memang "The Scouse cafu" harus absen, maka Rodgers mau tidak mau harus mencoba Martin Kelly dan percaya kepada pemuda kelahiran Whiston tersebut. Memang Kelly bermain buruk ketika menghadapi Cardiff, tapi bukankan Flanagan juga bermain buruk ketika menghadapi Arsenal sebelum akhirnya dia bermain apik ketika berhadapan dengan Everton. Kelly baru sembuh dan dia tentu membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan skema tim yang sekarang, jadi tidak ada salahnya jika kemudian Brendan memberikan kesempatan kepadanya. Dan hey, Liverpool akan bertandang ke Etihad, tempat dimana semua tim besar bertumbangan dengan skor telak, jadi dapat poin ya syukur tidak dapat poin ya sudahla.

Come on you Martin Kelly, put Nasri into your pocket.

Sunday, December 15, 2013

FLANO !!!

Pekan ke 32 musim 2010-2011 Liverpool menjamu salah satu penghuni empat besar yaitu Manchester City yang sedang mengumpulkan bintang dari penjuru dunia karena uang tak terbatas pemiliknya. Laga yang digelar pada hari Senin tanggal 11 April 2011 tersebut dimenangkan Liverpool dengan skor 3-0 sekaligus pembalasan atas pertemuan pertama di kandang Citizen dimana Liverpool tumbang dengan skor yang sama. Saya yang kebetulan nonton (waktu itu hak siar masih dipegang MNC Grup, jadi match subuh tetap disiarkan) hampir tidak percaya tim yang pada paruh musim pertama bersaing di zona degradasi ternyata bisa menang telak atas Manchester City padahal sejumlah pemain utama Liverpool banyak yang cedera. Gara gara laga ini pula saya sempat terbuai oleh harapan yang kemudian ternyata menjadi harapan palsu, harapan kalau banderol 35 juta itu sesuai ternyata hanya sebuah harapan semu karena ternyata pemain bernomor punggung 9 tersebut lebih sering menjadi bahan troll di twitter bersama sama dengan nomor 9 sebelumnya gara gara kesulitan menemukan letak gawang lawan, tapi ahsudahla bukan hal itu yang akan dibahas pada kesempatan kali ini.

Starting line-up Liverpool malam itu adalah Reina (GK), Carragher, Skrtel, Aurelio, FLANAGAN, Meireles, Lucas, Jay Almighty Spearing, Kuyt, Suarez, dan Carroll. Cederanya Glen Johnson dan Martin Kelly membuat Liverpool mengalami krisis bek kanan dan untuk mengisi slot tersebut King Kenny memanggil salah satu personil reserves, Jon Flanagan. Pemuda yang pada saat itu berumur 18 tahun pun sukses menjalani debut dengan baik di Anfield meskipun sempat terpelanting karena cas bodi dengan Balotelli.

Seminggu kemudian Flanagan kembali mendapatkan kepercayaan dari King Kenny untuk mengisi fullback kanan dan Liverpool akan bertandang ke Emirates Stadium, kandang dari Arsenal yang saat itu menempati peringkat kedua. Laga yang berlangsung lebih dari 100 menit dan berakhir 1-1 itu menjadi laga kedua Flanagan, bisa dibayangkan bagaimana perasaan pemuda berumur 18 tahun yang dua laga awal karirnya berhadapan dengan tim tim tangguh. Dia adalah masa depan Liverpool.

Bermain di 7 laga terakhir Liverpool musim 2010-2011 ternyata belum membuat Flanagan bisa menembus posisi inti di sektor bek kanan, pada musim 2011-2012 dia hanya tampil sebanyak 5 kali termasuk ketika backpass gagalnya ke Doni yang menyebabkan penalti ketika laga melawan Blackburn Rovers. Di era Rodgers pada musim 2012-2013 pun Flanagan tidak mendapatkan kesempatan bermain bersama tim inti, selain disebabkan cedera, penampilan stabil Andre Wisdom juga berhasil mencuri perhatian Rodgers sehingga Flano gagal menambah caps di tim inti.

Di tahun kedua kepelatihan Rodgers sektor bek kiri mendadak krisis setelah Jose Enrique cedera dan Aly Cissokho yang bermain tak ubahnya Konchesky sehingga Brendan menempatkan Flanagan sebagai bek kiri ketika derby Merseyside dan tentu saja dia dibully habis habisan oleh Mirallas. Meskipun dibully oleh Mirallas, tidak ada gol yang tercipta akibat kesalahannya dalam menjaga sektor kiri pertahanan Liverpool.

Bermain bukan pada posisinya (meskipun sempat beberapa kali bermain sebagai bek kiri di reserves) ternyata tidak membuat Flanagan hanya menjadi pelengkap di lapangan. Dia tampil begitu bersemangat dan berusaha sekuat tenaga agar sektor kiri Liverpool aman meskipun mungkin dia tidak sebaik Jose Enrique, tapi hei, dia adalah pemuda berumur 20 tahun dan dia aslinya adalah bek kanan, berikan jempol untuk dia, dia layak mendapatkannya.

Dengan absennya Enrique sampai Januari maka dipastikan Flano akan terus mengisi slot bek kiri selama Desember dan ujian berat akan dimulai ketika Liverpool bertandang ke White Hart Lane nanti malam. Mampukan Flano meredam sektor sayap kanan Spurs yang mempunyai Townsend ataupun Holtby? Biarkan dia menjawabnya nanti malam

Melihat Flanagan yang bisa menembus skuad utama karena usaha keras dan perjuangan di lapangan harusnya para pemain akademi yang lain bisa mencontohnya, bahwa usaha dan kerja keras bisa membuahkan hasil meskipun mungkin dia tidak memiliki skill sebaik fullback lainnya. Keep it Flano, You'll Never Walk Alone

Wednesday, December 4, 2013

Menanti Kiprah Liverpool di Bulan Desember

Sebelum memasuki bulan Desember, Liverpool masih menguntit Arsenal di tempat kedua dengan selisih empat poin. Pencapaian yang boleh dikatakan luar biasa jika melihat bagaimana skuad yang dimiliki Liverpool saat ini. Bisa dibayangkan bagaimana Liverpool bisa nangkring di tempat kedua padahal tanpa diperkuat Suarez pada 5 laga awal EPL, belum lagi kemudian kehilangan Coutinho sehingga Suarez dan Sturridge harus berjuang tanpa suplai bola dari si nomor sepuluh. Tapi toh pada akhirnya Liverpool tetap saja "sukses" membayangi Arsenal yang disebut sebagai kandidat kuat juara musim ini.

Sampai pada akhirnya di awal Desember Liverpool harus bertandang ke KC Stadium, kandang dari Hull City yang baru saja promosi musim ini bersama Cardiff dan Crystal Palace. Seharusnya Liverpool bisa mengatasi Hull City dengan mudah jika melihat peforma musim ini yang begitu menjanjikan ketika bertemu tim "papan bawah".

Namun apa daya, ternyata Fowler berkehendak lain pada minggu tersebut. Tidak ada lagi dewi fortuna seperti laga laga sebelumnya, sehingga Liverpool pun gagal membendung tuan rumah dan tiga gol bersarang di gawang Simon Mignolet. Entah apa yang terjadi dengan Liverpool, tiga gol tuan rumah hanya berbalas satu yang lahir dari freekick sang kapten. Mungkin Fowler terlalu asyik reply reply-an dengan Didi Hamman tentang Adnan Januzaj sehingga dia lupa memberkati para pemain Liverpool di KC Stadium dan Liverbird pun di terkam oleh Tiger yang sebenarnya sedang ompong.

Dinihari nanti Liverpool akan menjamu Norwich City di Anfield dalam lanjutan Premier League. Dilihat dari empat pertemuan terakhir harusnya Liverpool mutlak mendapatkan 3 poin nanti, namun semuanya tergantung bagaimana taktik dari Brendan dan penerapannya oleh para pemain.

Kemenangan jelas penting bagi Liverpool untuk menjaga asa agar tetap berada di empat besar hingga pergantian tahun, karena akan ada lawan lawan berat menanti di pekan pekan selanjutnya. Selepas menjamu Norwich, Liverpool akan bertemu dengan West Ham dan sampai akhir tahun Liverpool akan berhadapan dengan Tottenham, Manchester City, dan Chelsea. Ketiga tim tersebut jelas merupakan lawan tangguh dan pasti akan menguras fisik dari pemain. Kita akan lihat kepiawaian Rodgers dalam meracik dan melakukan rotasi di jadwal yang super padat kali ini.

Berhadapan dengan tim tangguh dengan skuad yang dalam seperti Spurs, Chelsea, dan City jelas memerlukan konsentrasi dan stamina yang prima. Ditambah dengan absennya Enrique sampai Januari, sektor kiri pun bakal menjadi lahan basah untuk dibully oleh lawan. Saya tidak ingin membayangkan, namun jika ada yang mau silakan coba menerawang ke depan untuk mengira ngira bagaimana Flanagan harus berhadapan dengan Jesus Navas dan Townsend *urut dada*

Tidak ada yang bisa menebak bagaimana peforma Liverpool menjalani bulan Desember ini, jikapun bisa pasti dia adalah orang dalam Yang Di Atas. Yang jelas hasil di bulan Desember akan sangat besar pengaruhnya untuk posisi di akhir musim nanti. Jika bisa bertahan di empat besar hingga Januari, maka besar peluang Liverpool untuk bisa tampil di Eropa musim 2014/2015. Namun jika berada di luar enam besar maka perjuangan untuk bertarung di empat besar akan semakin berat dan caption footy jokes yang "tidak pernah kalah di Liga champions selama 5 musim" akan tetap bertebaran setiap hari selasa dan rabu di musim 2014/2015.

Mari berharap agar Desember tahun ini bersikap ramah kepada Liverpool sehingga harapan Gerrard dan Suarez bisa terkabul jika harapan Kolo Toure mungkin terlalu tinggi.

Monday, November 11, 2013

Dewi Fortuna Kembali Menyambangi Liverpool

Tykhe adalah Dewi dari keberuntungan atau istilah kerennya "lucky", di sejumlah bacaan yang beredar Tykhe ini kemudian diistilahkan Dewi Fortuna di Indonesia. Dewi Fortuna ini dihormati sebagai dewi keberuntungan, kesuksesan, dan kemakmuran. Entah bagaimana kemudian Dewi Fortuna ini sering dihubungkan dengan sepakbola karena "lucky" juga salah satu faktor yang membuat sepakbola terlihat sebagai olahraga yang paling menarik di muka bumi ini. Final Istanbul 2005 pun dianggap sebagai salah satu bentuk campur tangan dari Dewi Fortuna, bagaimana Liverpool yang sudah tertinggal 3 gol pada babak pertama kemudian sukses meyamakan kedudukan pada babak kedua dalam tempo 6 menit dan Gerrard mengangkat Piala setelah menang adu penalti. Semangat pantang menyerah yang dibantu oleh Dewi Fortuna itu sudah berhasil menciptakan kesuksesan, walaupun hal itu sudah 8 tahun yang lalu (saya masih SMP).

Dewi Fortuna atau apapun istilahnya tampaknya sedang menyambangi salah satu klub sepakbola di kota pelabuhan Inggris Raya, klub yang sudah bertahun tahun mengalami masa medioker sejak ditinggal salah satu pelatih kesayangan mereka, Rafael Benitez. Dewi fortuna ini diidentikkan dengan keberuntungan atau istilah orang di pontianak "heng" sudah begitu lama menjauhi klub yang didirikan oleh John Houlding tersebut, meskipun sempat meraih trofi Carling Cup di tahun 2012 tapi ternyata hal tersebut bukanlah apa apa karena toh pada akhir musim Sang Raja dilengserkan dari kursi kepelatihannya dan digantikan oleh Brendan Rodgers.

Musim 2011-2012 adalah saat di mana Dewi Fortuna seperti terlihat seolah memblacklist Liverpool dari salah satu klub yang boleh menerima keberuntungan, sehingga tendangan pemain Liverpool seperti tidak diijinkan untuk masuk ke gawang lawan. Mungkin Dewi Fortuna meniupkan sedikit angin sehingga puluhan shot yang seharusnya menjadi gol malah membentur tiang dan pada akhirnya Liverpool terdampar di peringkat 8, sama seperti nomor punggung Gerrard (oke ini tidak penting). Di musim tersebut bukan hanya di Liga saja Liverpool yang kesulitan memperoleh keberuntungan, pada final piala FA 2012 di Wembley melawan Chelsea gol Andy Carroll pun dianulir karena dianggap belum melewati garis dan sayang sekali karena pada tahun itu belum ada teknologi garis gawang, namun itulah yang membuat sepakbola terlihat lebih manusiawi bukan seperti pada game game konsol.

Di era Brendan Rodgers, Dewi Fortuna pun tampaknya masih ogah ogahan untuk mampir ke Anfield sampai paruh musim pertama. Namun ketika memasuki paruh musim kedua Dewi Fortuna mulai nongkrong di bar di pusat kota Merseyside sampai kemudian dia mengijinkan tembakan Downing melewati kolong dari Jan Vertonghen dan kemudain Liverpool menang atas Tottenham 3-2 lewat gol terakhir dari penalti sang kapten.

Dewi Fortuna mengambil sedikit DNA Iniesta dan memasukkan skill through ballnya ke dalam kaki Coutinho sehingga terjadilah terobosan membelah lautan yang berkali kali terlihat di beberapa laga menjelang akhir musim dan Sturridge bersama Suarez pun sudah merasakan betapa manisnya through ball pemilik nomor 10 ini. Meskipun hanya finish di tempat ke tujuh tapi setidaknya peforma di paruh musim kedua sudah memenuhi ekspektasi sejumlah pengamat.

Musim 2013-2014 dimulai dan Liverpool harus mengarungi 5 laga tanpa topskor mereka musim lalu, Luis Bite Suarez akibat skorsing panjangnya. Namun dari sinilah terlihat bahwa Dewi Fortuna sekarang sudah bersama Liverpool dan selalu senantiasa mendampingi anak asuh Brendan Rodgers dan hasilnya adalah 3 kemenangan beruntun di awal musim yang mana sempat membuat Liverpool menjadi pemimpin klasemen sementara. Yang paling penting tentu saja tiga kemenangan pertama tersebut semuanya berakhir dengan skor 1-0 dan semua gol dicetak oleh Daniel Sturridge.

Dan kini hingga pekan ke 11 Liverpool telah memenangkan 7 laga, 2 seri, dan 2 kalah sehingga memantapkan posisinya di peringkat 2 meskipun jarak poin yang sangat ketat di EPL bisa membuat tim manapun terlempar ke papan tengah jika kalah. Liverpool hanya tertinggal dua poin dari Arsenal yang kini memimpin klasemen, namun hanya berjarak 3 poin dengan Spurs yang ada di peringkat 7, jadi apapun masih bisa terjadi.

Pada pekan ke 10 di saat Liverpool menyerah di Emirates Stadium, secara mengejutkan Chelsea juga menyerah dari Newcastle dengan skor yang sama diikuti oleh Southampton dan Spurs yang hanya bisa meraih hasil imbang dan hasilnya Liverpool tetap aman di peringkat ke tiga.

Sedangkan dipekan lalu Liverpool berhasil menghajar Fulham 4-0 di Anfield, hasil yang sangat baik meskipun musim lalu Fulham juga selalu menjadi bulan bulanan Liverpool. Pada pekan tersebut Dewi Fortuna menyambangi Stamford Bridge terlebih dahulu dan hasilnya anak asuh The Special One ini hanya bisa meraih hasil seri dan itupun dikarenakan penalti di injury time setelah aksi menyelam Ramires sukses mengelabui wasit. Jadilah Liverpool menggeser Chelsea di tempat kedua, dan secara mengejutkan besoknya tim peringkat 8 sukses menaklukkan tim nomor satu lewat skema set piece. Dan persaingan di papan atas Liga Premier semaik ketat, seketat baju Evan Sanders.

Liverpool tampaknya sudah dihapus dari daftar hitam tim milik Dewi Fortuna sehingga musim ini jumlah tembakan menghantam tiang menurun drastis dan sejumlah gol krusial pun berhasil menjadi penentu kemenangan Liverpool sehingga tidak terlalu banyak poin yang terbuang di 11 pertandingan awal ini. Namun musim sangat panjang, masih ada 27 pertandingan lainnya yang harus dilewati ditambah padatnya jadwal pada bulan Desember sampai Januari nanti. Semoga saja Dewi Fortuna masih berpihak kepada Liverpool sampai akhir musim usai terlepas dari nyata atau tidaknya mitologi mengenai Dewi Fortuna ini.

Saturday, November 9, 2013

Nasib Sang "Vice Captain"

Awal musim 2012/2013 Liverpool benar benar sibuk, bukan sibuk belanja pemain ataupun mencari marquee signing seperti kebanyakan tim lainnya, tapi sibuk mempertahankan para pemainnya yang diincar tim lain mulai dari Skrtel, Agger, Suarez, sampai Downing *ehhh. Daniel Agger pun gencar diberitakan akan bergabung ke Manchester City dan Barcelona, tapi untuk menampik hal tersebut Dagger membuat tatto YNWA di jarinya. Tatto yang sangat fenomenal dan menjadi design andalan dari sejumlah vendor tshirt yang berseliweran di lini masa. Tatto Dagger ini menegaskan bahwa dia sangat mencintai Liverpool dan berharap bisa terus bermain di depan para kopites di stadion kebanggannya dengan balutan jersey Liverpool. Loyalitas Agger pun sudah tak diragukan lagi sehingga orang beramai ramai memprediksikan kalau beliau akan menjadi kapten menggantikan Gerrard kelak karena cinta dan loyalitasnya kepada Liverpool.

Musim 2012-2013 pun berlalu dengan hasil Liverpool finish di nomor 7, tapi Agger tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Baginya yang penting dia bisa bermain untuk klub yang dicintainya dan bisa memberikan yang terbaik untuk para pendukung. Tapi Barcelona yang salah satu defendernya sudah uzur terus merayu Agger agar mau berlabuh di Nou Camp, bahkan ada sejumlah akun fanspage Barcelona yang mengupload foto Agger ketika sempat bersekolah di Akademi Barcelona.

Sebagai cara untuk memproteksi Agger pihak klub kemudian menunjukknya sebagi vice captain menggantikan Carragher yang pensiun. Agger tentu saja sangat senang, kini dia sudah semakin menjadi bagian yang sangat penting di Liverpool. Tawaran dari Barcelona pun kembali tak digubris oleh Liverpool dan sampai jendela transfer musim panas ditutup Daniel Agger tetap menjadi milik Liverpool.

Agger selalu bermain penuh di tiga laga awal EPL musim ini dan hasilnya Liverpool selalu berhasil mengamankan angka penuh dan sempat memuncaki klasemen. Sampai semuanya berubah ketika Liverpool memutuskan untuk mendatangkan bek tengah asal PSG, Mamadao Sakho. Agger tak lagi menjadi starter dan bahkan kadang kadang hanya menjadi penonton di bangku cadangan. Sakho menjadi pilar penting di formasi 3-5-2 yang sekarang digunakan oleh Brendan Rodgers dan Agger pun harus rela di nomorduakan. Sebenarnya sungguh ironis karena Agger dinomor duakan setelah dia ditunjuk sebagai vice captain.

Sakho tampil impresif sejak didatangkan dari Paris, namun entah di formasi 3-5-2 Brendan lebih suka memasang Toure, Skrtel, dan Sakho. Cukup mengejutkan memang kenapa Brendan lebih memilih Skrtel sebagai salah satu andalan di 3 belakang padahal Skrtel diakhir musim lalu tampil begitu buruk sehingga malah Agger yang tak kunjung mendapatkan tempat utama di Liverpool.

Banyak yang berharap bahwa Agger yang seharusnya menempati posisi Skrtel di tengah karena dia adalah ball playing defender terbaik saat ini, namun yang menjadi pelatih adalah Brendan Rodgers sehingga para pendukung hanya bisa berceloteh di twitter, blog, ataupun forum forum. Namun jika melihat permainan Skrtel saat ini, maka akan sulit bagi Agger untuk bisa menggesernya. Berikut ada sedikit komparasi dari penampilan keduanya di awal musim ini dan silakan ditelaah sebaik mungkin.



Siapa yang tidak sedih melihat Agger hanya menjadi bench warmer, pemain yang begitu dicintai publik Anfield karena loyalitasnya yang "too damn high" (seperti caption di meme meme). Agger sendiri meminta kepada klub agar dirinya tidak dijual ke klub di Liga Inggris karena dia tidak ingin bersaing bersama klub yang sangat dicintainya di dalam satu liga. Ketika tawaran itu datang dari Barcelona, tim yang setiap musim hampir selalu bisa dipastikan memenangkan Piala serta selalu tampil di Liga Champions (liga yang selalu dijadikan alasan para pemain untuk tidak bergabung ke Liverpool saat ini) Agger tak bergeming karena dia ingin meraih kesuksesan itu bersama Liverpool dan dia yakin Liverpool akan kembali bangkit (meskipun entah kapan).

Apakah nasib Agger akan sama dengan Vermaelen di Arsenal? Kita tidak tahu apa yang ada di pikiran Rodgers ataupun pemilik klub, yang jelas menyaksikan laga Liverpool tanpa Agger pasti saya merasa ada yang kurang dari lini belakang Liverpool. Tidak ada lagi sikut sikutan seperti dia menghajar Fernando Torres ataupun maki makiannya kepada pemain yang melakukan diving seperti yang dilakukannya kepada Gareth Bale. Kedatangan Sakho yang merupakan marquee signing Liverpool di bursa transfer musim panas beberapa bulan yang lalu benar benar menenggelamkan Agger.

Dua bulan lagi bursa transfer musim dingin akan di buka, kita tidak tahu siapa yang akan pergi meninggalkan Anfield, entah itu Skrtel ataupun Agger. Namun saya sangat berharap Agger bisa stay di Anfield, biarkan dia membimbing rekan rekan lain yang lebih muda karena hanya dialah satu satunya pemain yang paling berisik di lini belakang. Biarlah dia meneriaki Enrique atau Lucas kalau mereka melakukan kesalahan.
Tapi apapun yang terjadi Januari nanti, kita semua hanya bisa berharap yang terbaik untuk Vice Captain kita.

Daniel Agger The Greatest Dane !!!

Thursday, November 7, 2013

Go Diego Go

Diego Ribas da Cunha, demikian nama lengkap pemilik nomor punggung 10 di Wolfsburg ini. Di usianya yang sudah mencapai 28 tahun ini banyak orang yang sudah melupakannya karena hanya membela tim peringkat 11 di Bundesliga musim lalu. Padahal performanya bersama Wolfsburg terbilang cukup baik dibandingkan dengan rekan rekan lainnya seperti Ivica Olic ataupun Bast Dost (striker tinggi asal Belanda). Diego bahkan menjadi top skor untuk Wolfsburg (walaupun banyak dari titik putih) dengan 10 gol. Bukan cuma rajin membobol gawang lawan, Diego juga menjadi pelayan bagi rekan rekannya. Dia banyak terlibat dalam proses gol rekan rekannya dan menjadi pemain paling menonjol di Wolfsburg meskipun toh akhirnya tim ini harus finish di papan tengah.

Diego bukanlah nama baru di kancah sepakbola Eropa, dia adalah salah satu playmaker terbaik yang dimiliki oleh Werder Bremen sekaligus merupakan mentor dari Mezut Ozil (raja assist saat ini). Diego merupakan sosok klasik nomor sepuluh klasik khas Brazil yang sesungguhnya, bermodalkan dribbling, pinpoint pass, serta visi yang luar biasa baik. Selama tiga musim membela Bremen, Diego menjadi sosok vital kesuksesan Bremen menembus final UEFA Cup di tahun 2009 namun dia gagal tampil di final karena akumulasi kartu dan Bremen menyerah 1-2 kepada tim dari Ukraina, Shaktar Donetsk. Tapi 10 hari berselang Diego berhasil membawa Bremen menjuarai DFB Pokal setelah menang 1-0 atas Bayer Leverkusen dan gol tunggal yang dicetak oleh Mesut Ozil merupakan hasil kreasinya.

Permainan memikat Diego membuat salah satu klub besar di Serie-A tertarik untuk memboyongnya dan dengan mahar senilai 24,5 juta euro dia pun resmi berlabuh di kota Turin. Beban berat sudah siap dilemparkan kepada Diego karena klub yang baru promosi di musim 2007-2008 ini baru saja ditinggalkan Pavel Nedved yang memutuskan untuk pensiun dan Diego diharapkan menjadi penerusnya. Diego yang mengenakan nomor punggung 10 pun bersiap memulai petualangan di Serie-A dan bermain di klub legendaris yang baru saja dicabut gelar scudettonya akibat skandal calciopoli yang menghebohkan itu.

Ciro Ferrara, pelatih Juventus pada saat itu menempatkan Diego di formasi 4-3-1-2 tepat di belakang dua striker baik itu Del Piero, Trezeguet, Amauri, ataupun Laquinta. Tapi hasil yang didapat Juventus bisa dibilang sangat buruk, sehingga akhirnya Ferrara dipecat dan digantikan oleh Zaccheroni pada Januari 2010 namun tetap tak berhasil menyelamatkan Juventus dan tim peraih scudetto sebanyak 31 (ehhh 29) harus puas finish di peringkat ke tujuh. Diego pun dianggap gagal menjadi penerus Pavel Nedved dan Juventus langsung menjualnya seharga 15,5 juta euro ke VFL Wolfsburg. Diego gagal unjuk gigi di Serie-A karena hanya mendapatkan kesempatan semusim dan tak pernah mendapatkan kesempatan keduanya.

Kembali ke Liga yang telah membesarkan namanya ternyata tak membuat Diego bisa sukses seperti di Bremen, musim kelam dilalui oleh Wolfsburg dan mereka hanya finish di tempat ke 15 setelah ditinggal Edin Dzeko pada paruh musim. Pada awal musim 2011-2012 Felix Magath bahkan mengatakan bahwa Diego tidak memiliki masa depan jika dia tetap di Wolfsburg dan akhirnya pemain yang pernah satu tim bersama dengan Robinho, Alex, dan Elano ini dipinjamkan ke Atletico semusim penuh.

Bersama Atletico Madrid Diego berhasil menebus kegagalannya di tahun 2009 bersama Werder Bremen, dia merasakan gelar juara Liga Eropa setelah di final Atletico berhasil mengalahkan Athletic Bilbao 3-0 dan Diego mencetak gol ketiga. Meskipun terbilang sukses, Diego tak kunjung dipermanenkan oleh Atletico Madrid dan akhirnya pada musim 2012-2013 dia kembali ke Wolfsburg.

Di Wolfsburg Diego masih menunjukkan kalau dia belum habis dan setidaknya dia berhasil membawa rekan rekannya menaklukkan Dortmund 2-3 di Iduna Park. Dan jika Diego mau mencoba atmosfer EPL saya rasa Liverpool adalah tempat yang tepat (asalkan harga tidak mahal dan gajinya lebih murah dari Gerrard). Selain karena Liverpool yang sekarang (mumpung masih) nomor 3 di klasemen ditambah dengan adanya sejumlah pemain latin di sana saya rasa adaptasinya tidak akan berlangsung lama. NGAREEEP MEN !!!
Go Diego Go !!!

Wednesday, November 6, 2013

Letupan Kecil Dari Kota Verona

Verona, apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata ini disebutkan? Sebagai orang yang masih hijau dalam sepakbola maka yang terlintas di pikiran saya tentu saja Chievo Verona, salah satu tim yang beberapa musim lalu sempat berkompetisi di Serie-A dan Sergio Pellisier adalah satu satunya pemain yang saya ingat dari tim tersebut. Atau mungkin bagi penikmat roman tentu tidak asing dengan Romeo and Juliet yang ceritanya bertempat di kota Verona. Sampai akhirnya ketika melihat klasemen Serie-A musim ini beberapa hari yang lalu ada satu nama yang menarik perhatian saya, ada sebuah tim yang berhasil duduk manis di peringkat ke 5 tepat diapit Inter dan Fiorentina, nama tim tersebut adalah Hellas Verona.

Hellas Verona baru saja promosi musim ini setelah 11 tahun tak pernah merasakan ketatnya "The Beauty of Serie-A". Pada pekan pertama mereka langsung menggemparkan Serie-A dengan menaklukkan tim penuh sejarah asal kota Milan dengan skor 2-1 setelah Luca Toni dua kali membobol gawang Abbiati di Stadio Marc'Antonio Bentegodi. Yaap, Verona berhasil mengalakan AC Milan, tim yang memenangi UCL (atau apapun itu nama sebelumya) sebanyak tujuh kali.

Hellas Verona bukanlah tim baru lahir seperti Swansea di Liga Inggris, setidaknya mereka dulu sempat merasakan bagaimana rasanya menjadi juara Serie-A pada musim 1984-1985 di mana kala itu Juventus memiliki sang Maestro Michael Platini dan Napoli baru saja mendatangkan Diego Maradona. Bukti bahwa setidaknya mereka dulu juga pernah bergigi di tanah Italia.

Hingga pekan ke 11 Hellas Verona telah memenangi 7 laga, seri sekali, serta kalah tiga kali, tentu bukanlah catatan yang buruk untuk tim baru saja promosi. Andrea Mandorlini berhasil menggabungkan talenta talenta muda dengan pemain veteran dan berpengalaman. Lihat bagaimana Juan Iturbe dan Jorginho Frello berhasil klop dengan Luca Toni, striker veteran yang kini sudah berumur 36 tahun namun masih mampu mencetak 5 gol dan 3 assist.

Anak asuh Mandorlini ini sudah bertemu 4 tim besar, yaitu AC Milan (meskipun kalau dilihat dari peringkatnya adalah medioker), AS Roma, Juventus, dan Inter. Dari ke empat tim tersebut hanya Milan yang kalah dari Verona sementara sisanya berhasil mengamankan poin penuh. Bertemu dengan 8 tim lainnya Verona selalu berhasil meraih angka penuh selain melawan Torino, sehingga total poin yang mereka kumpulkan sampai giornata 11 adalah 22.

Serie-A memang baru 11 pekan, namun Verona berhasil mencuri perhatian dengan talenta mudanya seperti Juan Iturbe yang dijuluki 'The New Messi" sehingga Barcelona dan Liverpool dikabarkan siap mengamankannya dari Verona, sementara Iturbe sendiri statusnya masih milik FC Porto, tim yang selalu menjual pemain bintangnya dengan harga selangit sejak era Mourinho.

Kiprah selanjutnya dari Hellas Verona ini tergantung dari kemampuan klub menjaga aset aset mudanya agar tidak terlalu cepat meninggalkan klub sehingga klub sempat mencari calon penggantinya. Jika mereka bisa konsisten terus menang melawan tim tim dibawah mereka maka peluang untuk bisa meramaikan persaingan di Eropa pun tetap terjaga.
Sungguh menyenangkan jika ternyata di tengah superiornya AS Roma ada tim lain yang berhasil mencuri perhatian dengan letupan kecilnya dan letupan itu berasal dari kota Romeo and Juliet.
The Beauty of Serie-A will you be beauty again?