Thursday, May 22, 2014

Season Review : Martin Skrtel

Kedatangan Kolo Toure secara gratis dari Manchester City di awal musim sempat membuat isu bakal hengkangnya Skrtel dari Anfield semakin mencuat terlebih setelah Rafael Benitez mengatakan ketertarikannya untuk reuni di Napoli. Meskipun sempat dipinggirkan Rodgers di akhir musim 2012/2013 pada akhirnya mantan pemain Zenit ini tetap bertahan di Liverpool dan isunya hilang bersama butiran debu di Gurun Sahara. Dengan peforma yang bisa dibilang buruk di musim lalu, pemilik nomor punggung 37 ini diprediksikan hanya akan menjadi pemanis bangku cadangan terlebih setelah Rodgers resmi mendatangkan Mamadou Sakho dan Tiago Illori.

Dua laga awal Rodgers memainkan duet Daniel Agger dan Kolo Toure sebagai bek tengah, prediksi kalau SKrtel hanya akan menjadi butiran debu pun tampaknya bakal menjadi kenyataan apalagi duet ini berhasil menjaga clean sheet di dua laga awal tersebut. Sampai pada akhirnya Liverpool akan menjamu sang juara bertahan Manchester United di Anfield 1 September tahun lalu dan apesnya Kolo Toure mengalami cedera sehingga mau tidak mau Brendan harus memainkan Martin Skrtel karena Sakho dan Illori baru saja datang jadi tidak mungkin memainkan pemain baru di laga krusial seperti saat itu. Pemain timnas Slovakia ini ternyata berhasil membayar tuntas kepercayaan yang diberikan oleh sang pelatih kepadanya, Skrtel berhasil membuat Van Persie terlihat tak ubahnya seperti striker medioker sekaligus berhasil mengamankan gawang Mignolet.

Setelah laga melawan Manchester United tersebut Skrtel tak tergusur dari line up Brendan dan selalu tampil sampai akhir musim di pentas EPL, dia membayar dengan baik kepercayaan yang diberikan kepadanya. The Slovak Hero telah mencetak 11 gol musim ini yang mana 7 diantaranya kegawang lawan sedangkan sisanya malah bersarang di gawang Mignolet. Skrtel menjadi senjata utama di set pieces Liverpool dan Arsenal adalah korban yang merasakan dua kali dibobol oleh Skrtel lewat skema set pieces.

Meskipun tercatat empat kali melakukan own goal, Skrtel ternyata mendapatkan gelar Defender of the Season dari situs whoscored.com
Catatan clearancesnya yang luar biasa memukau membuatnya layak mendapatkan gelar pemain bertahan terbaik di EPL meskipun kebobolan Liverpool agak memprihatinkan, Skrtel adalah salah satu pejuang yang berhasil membawa Liverpool kembali ke UCL musim depan dan sempat memimpin klasemen sementara sebelum akhirnya disalip Manchester City.

Skrtel berusaha keras untuk menembus skuad LFC, dia memiliki kekurangan dan mungkin tak sebagus Cahill dalam hal bertahan dan melindungi gawangnya tapi dia memiliki kelebihan lain yaitu mencetak gol. Menjadi alternatif serangan dari Liverpool di saat strikernya buntu adalah jatahnya, sesuatu yang tak dimiliki oleh Kolo Toure dan Sakho dan wajar jika dia menjadi pilihan utama Liverpool di lini belakang musim ini. Setelah melihat peformanya, sudah layak dan sepantasnya jika Skrtel bertahan untuk musim depan demi memperdalam skuad untuk berlaga di empat ajang sekaligus

Monday, May 19, 2014

Progress Luar Bisa Brendan's Army

Liverpool telah mengakhiri musim 2014/2015 dengan pencapaian yang luar biasa, berhasil menjadi runner-up dengan mengumpulkan 84 poin tentu bukanlah hasil yang biasa saja bagi tim yang hanya menargetkan empat besar di awal  musim. Liverpool berhasil menjadi juara di hati para pendukungnya di seluruh dunia, entah bagaimana rupa dari medali dari pihak pengurus hati pendukungnya saya tidak tahu. Dua striker Liverpool berada di urutan teratas pencetak gol di kancah Liga Inggris dan bahkan dua pemainnya juga memuncaki daftar top assist, jadi tidak ada alasan untuk mengatakan Liverpool gagal di musim ini. Kegagalan Liverpool hanya satu, mereka gagal menjuarai Liga Inggris :)

Berhentilah membicarakan tentang betapa buruknya pertahanan Liverpool di musim ini, mari kita bahas mengenai hal hal positif yang terjadi di sepanjang musim ini di mulai dari pencapaian peringkat. Brendan Rodgers telah membawa Liverpool ke arah yang benar, anak kecil pun pasti tahu bahwa perubahan peringkat dari tempat ketujuh menjadi tempat kedua adalah perkembangan yang sangat signifikan meskipun Shankly mengatakan "if you are second you are nothing". Liverpool bahkan bisa finish di atas Chelsea yang katanya dilatih oleh salah satu manager terbaik dunia yang juga merangkap part time supir bus, sungguh luar biasa jika membandingkan total belanja antara Rodgers dan Mourinho dengan keberhasilan mereka menyelesaikan liga. Jika peringkat kedua saja "Nothing" lantas kita menyebut apa mereka yang berada di peringkat ketiga? (jangan bahas bahas peringkat ketujuh, karena peringkatnya terlalu jauh untuk dibicarakan)

Luis Suarez berhasil menjadi monster yang sangat menakutkan bagi penjaga gawang lawan, bukan sekedar menakutkan bagi Ivanovic. Musim ini dia mencetak 31 gol dari total 33 penampilannya dibandingkan dengan 23 gol dari 33 pertandingan di musim sebelumnya. Suarez tidak pernah absen sekalipun selain dari hukuman yang diterimanya di penghujung musim lalu dari akibat menggigit Ivanovic karena pantatnya terlalu bohay untuk ukuran pemain sepakbola. Suarez tidak hanya menjadi pencetak gol tapi dia juga bersedia membagi bagi gol kepada rekan lainnya, terbukti dengan 12 assist yang diperolehnya musim ini setelah musim lalu sibuk mencari gol sehingga hanya mencatatkan 5 assist. Tidak ada alasan lagi bagi FA untuk menyatakan Dany Wellbeck ataupun Wickham lebih baik dari Suarez di musim ini sehingga akhirnya El Pistolero berhasil mendapat PFA Player of The Year.

Daniel Sturridge berhasil mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Suarez di lima laga awal dan menunjukkan bahwa dirinya adalah striker terbaik Inggris saat ini. Sturridge telah mencetak 21 gol dan 7 assist dari 29 penampilannya musim ini cukup menunjukkan bahwa 12 juta pound bukanlah sebuah perjudian seperti yang dikatakan oleh kakek tua asal Scotland. Meskipun terkadang maruk dan agak menyebalkan, Sturridge telah membuktikan bahwa Chelsea salah besar telah menjualnya.

Apa kabar kapten kita, Slip-G ? Terpeleset di laga krusial dan membuatnya seolah menjadi salah satu aktor utama penyebab Liverpool gagal menjuarai Liga musim ini, orang bahkan lupa Gerrard adalah top assist di EPL musim ini dengan 13 assist. Gerrard menjadi master Set pieces di tanah Inggris saat ini, 13 assistnya ternodai oleh terpeleset yang hanya sekali. Saya tidak akan lupa dengan umpan terobosannya ketika Liverpool menang 2-3 di kandang Fulham, visi yang sempurna untuk seorang pemain berumur 33 tahun yang baru kali ini bermain sebagai deep playmaker. Mungkin lebih tepat jika panggilan Gerrrard untuk saat ini adalah SetPieces-G.

Jordan Henderson dan Raheem Sterling menjadi pemain yang paling berkembang di musim ini, keduanya bahkan berangkat ke Brazil dibawah sang pelatih legendaris Roy Hodgson. Henderson menjadi pemain ketiga setelah Mignolet dan Skrtel yang terus menjadi andalan Rodgers di musim ini dengan 35 caps di EPL. Sedangkan Sterling bersinar sehingga bahkan Januzaj memutuskan untuk membela Belgia karena takut hanya akan menjadi pembantu jika dia memilih Inggris. Raheem mencetak 9 gol dan 5 assist di musim ini, dia adalah top scorer ke empat Liverpool. Dan jika ada yang mengatakan Wilfred Zaha lebih baik dari Sterling maka anda boleh memuntahkan minuman di depan mukanya.

Di lini belakang Martin Skrtel berhasil menjadi bek tersubur dengan torehan 7 gol ke gawang lawan dan 4 gol ke gawang sendiri, Skrtel menjadi andalan Rodgers di musim ini setelah sempat menjadi pemanas bangku cadangan di akhir musim akibat bermain buruk di FA Cup. Terlepas dari buruknya pertahanan Liverpool, Skrtel telah menjadi monster set pieces yang menakutkan pertahanan lawan.

Liverpool telah berkembang dengan pesat, tidak ada alasan untuk kecewa dengan peforma mereka di musim ini. Come on you redsmen !!!!!

Friday, May 2, 2014

Rapuhnya Pertahanan Brendan's Army

Mungkin sampai detik ini masih banyak yang tidak percaya kalau Liverpool bisa berada di puncak klasemen EPL dengan 80 poin dari 36 pertandingan, apalagi jika melihat skuad yang tidak jauh berbeda dengan musim sebelumnya. Dari penghuni starting hanya Mignolet dan Mamadou Sakho yang merupakan pemain baru, sisanya adalah "bekas" skuad yang finish di peringkat 7 musim lalu. Nama nama seperti Skrtel, Glenjo, Gerrard, Allen, Lucas, Coutinho, Sterling, Suarez, dan Sturridge sudah ada sejak musim kemaren. Namun hasil yang diraih tentu saja sangat berbeda dengan musim lalu, jika musim lalu Liverpool hanya mampu mengumpulkan 61 poin dan mencetak 71 gol maka di musim ini anak asuh Brendan Rodgers ini sudah mengumpulkan 80 poin dan mencetak 96 gol, perkembangan yang begitu signifikan di sektor serangan. Duet SaS bahkan menyumbang 50 gol dengan rincian Suarez 30 sementara Sturridge 20, menjadikan duet ini menjadi duet paling maut di tanah Britania.

Perkembangan yang signifikan di lini serang ternyata tak diimbangi oleh lini pertahanan, Liverpool telah kebobolan 46 gol, terburuk di antara para penghuni Big Four dan bahkan lebih buruk dari Manchester United yang ada di peringkat ke 7. Brendan memang berhasil meningkatkan daya gedor lini depan LFC tapi dia masih belum berhasil membenahi pertahanannya. Memang jika melihat perolehan poin musim ini tidak ada alasan untuk mempedulikan pertahanan Liverpool, namun karena keadaan perburuan gelar juara EPL kini, sekarang Brendan boleh menyesal kenapa anak buahnya bisa dengan gampangnya membiarkan 3 gol bersarang ke gawang Mignolet ketika menang atas Stoke, Swansea, dan Cardiff City.

Saya tidak berani membahas persaingan selisih gol dengan Manchester City, saya hanya mencoba membandingkan pertahanan Liverpool musim ini dan musim kemaren. Musim lalu shots conceded Liverpool adalah 11.4 pergame, sementara di musim ini 12.9 pergame. Bahkan Liverpool berada di urutan ke 9 tim yang gawangnya paling jarang di serang, seolah olah mereka membiarkan musuh untuk membombardir Mignolet semaunya, hasilnya ya kita kalah selisih 6 gol dengan Manchester City dan berada dalam tekanan.

Sunday, April 20, 2014

Hey Liga Champions, Kami Datang Kembali

European Night


Awal musim lalu saya sempat melihat patch BoH beserta respectnya di salah satu akun yang menjual merchandise klub sepakbola dan saya melihat harganya lumayan mahal, tapi toh saya berpikir kayaknya belum perlu yang kayak begituan jadi saya acuhkan sajalah tweet tweet yang berhubungan dengan BOH dan Starball. Lagian saya juga bukan tipikal pengumpul jersey jersey seperti khalayak ramai di forum Redsarmy, jadi saya tidak terlalu tertarik menghias jersey dengan tempelan yang harganya hampir setara dengan harga jerseynya sendiri. Biarlah jersey Home musim ini menjadi polos adanya sebagai kenangan terhadap skor 1-0, 4-0, 5-1, 4-0, dan semoga saja berlanjut dengan pembantaian terhadap Chelsea minggu depan.

Tapi mendadak saja Patch Respect beserta BOH menjadi hal yang penting mulai musim depan, kenapa? Karena ternyata Liverpool sudah berhasil mengamankan spot langsung di babak penyisihan Grup untuk musim depan. Hingga pekan ke 35 The Reds sudah berhasil mengumpulkan 80 poin, dengan 3 laga tersisa secara matematis sudah tak mungkin bagi Arsenal yang berada di peringkat ke empat untuk bisa mengejar karena jumlah poin "Yaya Sanogo dan rekan rekannya " adalah 70. Permintaan akan BOH dan Respect dijamin akan meningkat karena sudah 4 tahun hanya bisa menghiasi jersey dengan patch BPL dan Europe League, saatnya membalaskan dendam kepada tim peringkat 7 yang sekarang mulai hobi mengungkit-ungkit sejarahnya.

Setelah memastikan diri lolos di babak penyisihan Grup tentu saja saya berharap om John W. Henry tidak segan segan mengeluarkan dana segar kepada Brendan agar bisa memperkuat dan memperdalam skuadnya agar bisa berkompetisi di ajang paling elit di benua biru tersebut. Dengan jadwal di Inggris yang begitu padat serta persaingan yang begitu ketat tentu saja Liverpool membutuhkan skuad yang lebih dalam agar tidak melempem dan malah gagal di semua kompetisi. Semua sektor harus di"upgrade" terutama fullback agar tidak terkejut ketika berhadapan dengan winger winger terbaik di tanah eropa, Liverpool tidak sedang berhadapan dengan Matt Jarvis, Stewart Downing, ataupun Ashley Young yang mungkin hanya membawa bola dipinggiran dan kemudian melepaskan crossing ke dalam kotak penalti, di UCL ada Reus, Robben, Ribery, Ronaldo, Bale, dan sejumlah winger top lainnya yang hobby menusuk ke dalam kotak penalti untuk mencetak gol dan bukan sekedar melepaskan umpan.

Apapun itu, yang jelas dengan berkompetisi di UCL maka pendapatan klub meningkat kemudian pemain dengan kualitas menengah ke atas pun pasti akan banyak yang tertarik bermain di Anfield musim depan. Tidak ada lagi joke joke basi di akun sejenis footy jokes yang membahas kiprah Liverpool di UCL musim musim sebelumnya. Bring that Big Ear to Anfield in May !!!

Sunday, April 6, 2014

8

Kapan terakhir Liverpool kehilangan poin penuh? Pertanyaan yang bagus dan saya dengan jumawa menjawab "maaf itu sudah terlalu lama, awal Februari lalu dan saya sudah tak begitu mengingat dan mungkin sudah lupa dengan rasanya seri" Baiklah, itu hanya joke basi untuk membalas slogan "not arrogant just better"nya tim sebelah yang sekarang sedang bersaing ketat dengan Tottenham untuk memperebutkan tempat ke enam. Tapi memang Liverpool terakhir kali kehilangan poin penuh pada awal Februari ketika bertandang ke WBA, ketika sedang leading 0-1 Kolo Toure dengan santainya memberikan bola kepada Anichebe yang kemudian langsung di konversinya menjadi gol. Tapi semenjak seri di The Hawthorns, The Reds tak terbendung dan meraih 8 kemenangan beruntun sampai saat ini (dan semoga saja malam ini menjadi yang ke sembilan).

Dari 8 kemenangan tersebut, Brendan Rodgers memakai formasi 4-3-3 dan formasi 4-1-2-1-2 masing masing sebanyak 4 kali. Di mulai dari formasi 4-3-3, formasi ini membunuh tim yang garis pertahanannya tinggi, silakan tanyakan kepada Arsenal, Tottenham, dan Southampton yang sudah merasakan kejamnya serangan balik Liverpool dengan formasi ini (formasi 4-3-3 baru digunakan di babak kedua setelah Raheem Sterling masuk menggantikan Coutinho). Dari 4 pertandingan yang menggunakan formasi 4-3-3, pemuncak klasemen EPL di hari Natal ini telah mencetak 16 gol dan kebobolan 6 gol. 7 gol dihasilkan oleh trio S dengan 4-3-3 dan 6 gol lahir dari para gelandang Liverpool yang berarti formasi ini tidak terlalu bergantung kepada ketajaman SAS di lini depan.

Formasi lain yang dipakai Rodgers adalah 4-1-2-1-2 dengan menempatkan Gerrard sebagai deep-playmaker di belakang dua CMF (Henderson dan Joe Allen), sementara Coutinho di tempatkan di belakang Suarez dan Sturridge. Formasi ini bergantung dari bagaimana kejeniusan Coutinho mengontrol permainan, jika Coutinho berhasil di matikan maka yang terjadi adalah seperti pada babak pertama ketika away ke St. Mary Stadium, permainan baru berubah total ketika Sterling masuk menggantikan Coutinho di babak ke dua. Statistik SAS di formasi ini adalah 7 gol dan 4 assist, artinya formasi ini berhasil mengakomodir duet maut EPL ini dengan baik.

Liverpool memperagakan permainan menyerang yang apik, dari 8 laga tersebut 30 gol telah dihasilkan entah itu dari titik putih ataupun own goal musuh. Meskipun demikian kebobolan liverpool pun agak sedikit mengkhawatirkan jika dilihat catatannya, untuk saat ini memang masih terlihat aman karena lini serang sedang tajam tajamnya. Dan malam ini Liverpool akan bertandang ke London Barat untuk bersua dengan Andy Carroll, Downing, dan Joe Cole kembali dan semoga saja bisa menjadi kemenangan yang ke sembilan secara beruntun.

Friday, March 28, 2014

Make Us Dream



Sesuatu yang terlihat atau dialami seseorang ketika dia sedang tertidur, demikian pengertian mimpi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi Online (maaf saya tidak memiliki KBBI edisi cetak). Sedangkan menurut wikipedia mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep). Namun mimpi tak selamanya berarti hanya bunga tidur, mimpi bisa berarti harapan atau ekspektasi atau sebuah keinginan yang belum terwujud dan diharapkan akan terwujud. Dan pendukung Liverpool sekarang sudah mengeluarkan banner bertuliskan "Make Us Dream" yang menurut saya artinya adalah buat kami bermimpi. Pendukung Liverpool memiliki mimpi yang sudah sangat lama sekali tidak terwujud, yaitu mimpi melihat timnya menjadi juara Liga Inggris (24 tahun tentulah bukan waktu yang sebentar) dan sekarang "kami" sudah boleh berharap mimpi itu akan terwujud musim ini meskipun sulit.

Sebenarnya tidak ada yang menyangka kalau ternyata Liverpool bisa membuat pendukungnya untuk bermimpi, terlebih jika melihat pembelian Rodgers di Bursa Transfer musim panas lalu yang bisa dibilang "hemat". Di saat tim lain mendatangkan Marquee Signing bernilai puluhan juta pounds entah itu gelandang atau penyerang, Tim pengoleksi 5 trofi "Big Ear" cukup mendatangkan Mamado Sakho dari PSG dan dia adalah seorang Centre Back. Mkhitaryan lebih memilih ke Dortmund meskipun sejumlah orang di Armenia melakukan "demo" kepada "pemilik" pemain Shaktar Donetsk tersebut agar mau menjualnya ke Liverpool dan yang paling santer tentu saja Willian yang dikabarkan sudah siap merapat ke Melwood karena akun twitternya sudah difollow oleh Lucas dan Coutinho ternyata hanya sampai di London dan akhirnya bergabung dengan Chelsea (salahkan kenapa tidak ada penerbangan langsung dari Russia ke John Lennon Airport, sehingga Willian harus transit di London dan pada akhirnya malah test medis di sana).

Mimpi itu berawal dari 3 kemenangan beruntun pada awal musim dan Liverpool berada di puncak klasemen selama beberapa pekan, sesuatu yang jarang terlihat tentunya. Daniel Sturridge menjadi pahlawan lewat tiga golnya yang membuat Liverpool mendulang 9 poin di tiga match awal. Harapan itu belum terlalu besar,
selain karena hanya menang dengan skor masing masing 1-0 Liverpool pun belum bertemu dengan tim tangguh (untuk pekan ke 3 saya anggap mereka hanya medioker meskipun juara bertahan). Tak lama kemudian Liverpool kembali gagal konsisten dan tertahan di peringkat ke empat setelah kalah dari Hull City di KC Stadium pada tanggal 1 Desember 2013.

Bulan Desember adalah Roller Coaster yang sungguh menyiksa bagi pendukung Liverpool, kami mendapatkan kado natal yang indah di puncak namun harus merayakan tahun baru di tempat ke lima. Sempat memuncaki klasemen setelah menang 3-1 atas Cardiff City, Liverpool kemudian takluk dari
Manchester City dan Chelsea secara beruntun sehingga harus berada di bawah Everton. Sungguh bulan yang aneh dan mimpi itu pun sempat menjadi samar samar sehingga perbincangan mengenai trofi adalah hal yang tabu pada saat itu.

Liverpool mengawali 2014 dengan menaklukkan Hull City 2-0 di Anfield sekaligus membalaskan dendam pada pertemuan sebelumnya, Are You Watching Hull City? Setelah itu Liverpool terus melaju bak Jorge Lorenzo dan sampai dengan pekan ke 31 telah berhasil mengumpulkan 68 poin yang artinya hanya tertinggal satu poin dari Chelsea. Tahun 2014 ini Liverpool belum pernah kalah di EPL, sekali lagi belum pernah kalah, duet SAS menjadi terror yang sangat menakutkan bagi pertahanan tim di EPL. Mungkin para defender lawan sudah gemetaran menjelang laga melawan Liverpool membayangkan akan dinutmeg oleh Suarez, belum lagi harus meredam Sturridge dan tentu saja yang tak kalah menakutkan adalah menandingi sprint Raheem Sterling. Hampir semua pertandingan di EPL tahun 2014 terlihat seperti sangat mudah bagi Liverpool, bahkan anak asuh Brendan Rodgers ini sukses mengalahkan MU 0-3 di Old Trafford, kemenangan yang diikuti dengan berkibarnya banner "Make Us Dream".

Make Us Dream bukan Teenage Dream (kalau Teenage dream ini bisa anda buka di youtube dan dijamin anda pasti puas dengan video klipnya), biarkan kami bermimpi sekarang. Bolehkah orang bermimpi? Tak ada yang melarang orang untuk bermimpi, mimpi basah pun tak dilarang. Silakan bermimpi setinggi mungkin, karena seperti lagu Bondan Prakoso & Fade to Black hidup berawal dari mimpi. Bermimpilah untuk jadi juara selagi Liverpool mempunyai kans seperti ini, kesempatan untuk bermimpi seperti saat sekarang sudah lama sekali tak muncul dan anda harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Jika memang Liverpool harus juara EPL musim ini ya saya bisa apa selain bikin PO tees Champ19ns.

Sunday, January 12, 2014

Britannia

Beberapa jam lagi Liverpool akan melakoni laga ke 21 nya di pentas EPL, dan laga kali ini harus diakui sangat sangat berat, "seberat cintaku padamu" demikian gombal para muda mudi yang sedang lucu lucunya, atau mungkin sekedar candaan dari seorang pengagum kepada pujaan hatinya. Terlepas dari gombalan atau rayuan atau apapun itu yang jelas laga ini memang sangat berat. Rekor pertemuan yang tak pernah mendukung Liverpool selama bermain di Britannia Stadium seolah olah menjadi beban puluhan ton yang harus dipikul anak anak asuh Brendan Rodgers dan hal tersebut ditambah lagi dengan peringkat Liverpool yang sekarang sedang berada di tempat ke 6 karena pesaing terdekat semuanya menang.

Stoke dibawah asuhan Hughes memang sudah tak sekasar waktu masih dilatih Toni Pulis, tapi toh tetap aja mereka adalah tim yang paling brutal di EPL musim ini, silakan cek whoscored untuk melihat statistiknya.
Silakan berharap tidak ada lagi injakan dari Huth ataupun tekel brutal dari Shawscross dan adu mulut antara Nzonzi dengan Coutinho, tapi itu semua adalah bagian dari drama di EPL.

Berada di peringkat 6 setelah sebelumnya sempat merayakan Natal di puncak tentu merupakan pukulan untuk Liverpool, apalagi kini LFC sudah di sebut sebut sebagai "Tittle Contender" menurut sejumlah statement dari sejumlah orang, tetangga depan rumah saya misalnya bilang "Liverpool bisa menjadi juara Liga kalau mereka mau memperdalam skuadnya lagi" baiklah skuad LFC memang tipis, tapi bukankan jika kelak gagal juara kita jadi punya alasan "wajar ga juara, kan skuadnya tipis kayak pembalut nabilah JKT 48" dan banter pun selesai.
Gerrard sudah mengatakan bahwa target utama Liverpool adalah 4 besar dan itu terdengar sangat realistis menilik peforma tim belakangan, tinggal bagaimana nasib menghadapi lawan lawan berikutnya.

Jika ditanya apakah Liverpool akan membawa poin dari Britannia malam ini, maka saya memilih akan mengosongkan jawaban untuk pertanyaan tersebut dan mengerjakan pertanyaan yang berikutnya. Pesimis? Tidak juga, namun dengan menjaga ekspektasi itu akan membuat saya lebih sehat secara batin menjelang Ujian Akhir Semester minggu ini.
Sekedar informasi Stoke baru sekali kalah di Britannia musim ini dan pelakunya adalah Norwich, silakan berhitung hitung mengenai peluang malam ini.