Sunday, August 28, 2016
Catatan Laga Tottenham vs Liverpool
1. Tak ada filter dari Gelandang tengah
Untuk kasus ini semuanya juga sudah tahu kalau Liverpool memang tak punya stok gelandang mumpuni yang bisa meredam serangan musuh selain Emre Can, serangan musuh akan langsung mengarah ke jantung pertahanan tanpa ada filter sedikitpun. Apakah gelandang tengah tidak berusaha meredam serangan spurs semalam? Manusia yang berusaha, Tuhan yang menentukan, demikian jokes garing ala ala DP BBM yang gambarnya buram udah kayak teks proklamasi. Henderson, Gini, dan Lallana bukannya tak berusaha untuk meredam serangan lawan, namun karena kapasitas mereka bukan untuk melakukan hal tersebut sehingga dari 17 total tekel yang mereka bertiga lakukan hanya 5 tekel yang sukses, hendo 3 kali sementara gini dan lallana masing masing satu kali. Terus kemana 12 tekel yang lain, ada yang gagal, ada yang jadi pelanggaran, bahkan mungkin udah ada yang jadi pilot (hehehehe, garing??? biarin). Dari 8 tekel yang dilakukan oleh hendo, kapten tercinta kita, hanya tiga yang sukses, dan tampaknya dia akan terus mengisi role tersebut mengingat emre can masih cedera, jadi kepada laskar anti hendo harap untuk bersabar, ya daripada lucas yang main ntar bukan pemain lawan yang dihajar tapi malah berlari ke tribun VIP para jurnalis untuk mengintersep James Pearce.
Jika melihat skema dan formasi yang diterapkan, harusnya Liverpool bertahan dari upfront namun apadaya ternyata gelandang tengahnya belum beradaptasi dengan peran baru mereka (positif thinking men). Jumlah intersep trio gelandang Liverpool ini hanya 3, iya 3, yang artinya gelandang spurs dibiarkan semaunya mengobrak abrik lini tengah tanpa ada gangguan sedikitpun, adapun ditekel kan tadi udah ditulis bagian atas bagaimana kualitas tekel para gelandang kesayangan kita semua ini. Jika mereka bisa mengupgrade kualitas tekel dan intersep, maka kejayaan Liverpool bukanlah hal yang mustahil (ingat ada kata "jika" di awal kalimat).
2. Roberto Firmino adalah Kunci Gegenpressing
Mungkin banyak yang sekilas melihat bahwa Firmino ini pemain pemalas, kerjanya jogging doang, ga mau pressing kayak Lallana atau Milner yang ngejar bola terus kalau di kaki lawan. Betapa bodoh dan tololnya pandangan demikian, firmino bukanlah malas tapi dia bergerak seefektif mungkin, bukan sekedar ngejar bola seperti anjing golden retriever di film air bud.
Berdasarkan catatan squawka ini, firmino berhasil mem-block 5 passing pemain lawan yang mana 4 diantaranya dilakukan di final third. Sementara, tukang pressing kita, lallana dan milner hanya sukses satu kali mem-block passing lawan, jadi mana yang lebih efektif pemirsa? (jordan henderson cuma dua, ini statistik selingan untuk hendo haters).
Jelas sudah alasan Klopp kenapa beliau lebih memilih memainkan firmino sebagai false 9 ketimbang memainkan origi ataupun sturridge, karena firmino pemain yang paling sesuai untuk jadi benteng pertahanan terdepan strategi gegenpressing. Yasuka suka pelatihnya juga sih mau mainin siapa, karena dia yang mengerti tentang pemain mana yang paling cocok untuk gaya mainnya, bukan anak twitter, apalagi anak Path.
Untuk sementara dua hal itu dulu yang jadi catatan penulis, karena cuma hal itu saja yang menarik perhatian. Sisanya bisa dicek di akun twitter lain, biasanya udah lebih lengkap dan spesifik. Untuk skor udah jelas 1-1, sedangkan peringkat sementara nomor 11 (bel19ve).
Tuesday, August 2, 2016
Menuju Musim 16/17
Musim 2015/2016 berakhir mei lalu, Liverpool seperti biasa masih tetap tanpa gelar (meskipun berhasil masuk ke dua final) dan finish di peringkat 8 disaat Leicester, tim yang baru promosi dua tahun lalu berhasil menjuarai Liga. Pahit? Iya, dan sepertinya fans Liverpool sudah bergumul dengan kepahitan bertahun tahun.
Tapi di balik kepahitan itu semua, ada sedikit harapan bahwa kita, fans Liverpool yang paling banyak bacot di twitter ini (termasuk saya) akan merasakan hal yang manis paling tidak dalam beberapa musim ke depan. Kenapa? Tak lain dan tak bukan karena Pelatih Liverpool sekarang adalah Jurgen Klopp, bukan Brendan Rodgers (sang maestro asal Irlandia dengan "great character"nya). Jika kau tak bahagia Juergen Klopp menjadi pelatih Liverpool kemungkinan dirimu adalah 1. Fans Manchester United 2. Kau sudah dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa.
Klopp datang dengan gegenpressingnya yang berhasil membangkitkan Dortmund dari tidur panjangnya sejak terakhir juara Liga tahun 2002, mengorbitkan sejumlah pemain antah berantah menjadi pemain bintang yang kemudian diincar oleh tim besar lainnya. Fans berharap Liverpool akan menampilkan permainan menyerang ala Dortmund walaupun kenyataannya musim lalu mainnya masih jauh dari harapan.
Menerapkan gegenpressing tak semudah yang dibayangkan, semua lini harus di reformasi jika ingin sistem berjalan sesuai harapan. Bukan hanya sekedar pemain, staff bahkan direktur harus diubah jika ingin menerapkan filosofi klopp ini. Dan bursa transfer ini menunjukkan bahwa revolusi itu sudah dimulai, pemain yang kata fans harus dipertahankan seperti Joe Allen, Ibe, dam Brad Smith sudah dilepas. Masuklah sejumlah nama yang kita sebelumnya tak terlalu akrab dan jauh dari rumor para ITK.
Transfer windows kali ini berhasil mengelabui sejumlah media, tak ada yang tau pasti siapa yang diincar Liverpool. Smoke screen berhasil mengalihkan perhatian media dengan sempurna, tak ada lagi isu Spurs menikung transfer Liverpool. Karena Klavan, Wijnaldum, dan Manninger sebelumnya tak pernah diberitakan oleh media.
Peluang musim depan pun harus diakui sangat berat jika melihat transfer tim pesaing. Namun bukankah kita pernah melakukannya di musim 2013/2014?
Sebelum semua orang menyebutkan nama Suarez saya juga berhak mengatakan bahwa kita punya Jurgen Klopp, the real marquee signing.
Doubter to believers
Up the reds
We go again
Thursday, April 7, 2016
Cristiano Ronaldo Tees
he has won so many titles well together and jointly manchester united real madrid.
for you fans of cristiano ronaldo and want to have cristiano ronaldo tees please visit this link
there are many options cristiano ronaldo tees there and not just a single color
so immediately buy cristiano ronaldo tees here
Wednesday, October 28, 2015
Kaos Jamie Carragher
Carragher memutuskan untuk pensiun pada tahun 2013.
begitu banyak trofi yang berhasil di raih oleh Jamie Carragher selama membela Liverpool selain trofi liga Inggris
Karena itu saya membuat design kaos Jamie Carragher ini
Jika anda ingin membeli kaos Jamie Carragher ini anda bisa membukanya di sini http://tees.co.id/store/passnmove
Jamie Carragher Tees
Sunday, July 26, 2015
Menebak Liverpool di Musim 2015/2016
Musim baru akan segera di mulai dua pekan lagi dan Liverpool telah melakukan sejumlah pembelian dengan harapan agar bisa kembali bersaing memperebutkan gelar Liga Inggris. Adam Bodgan, Milner, Ings, Gomez, Firmino, Clyne, dan Benteke didatangkan oleh klub untuk menambah daya gedor musim baru ini, nama terakhir untuk sementara menjadi pemain termahal musim ini dengan mahar 32,5 juta pound. Sementara itu Raheem Sterling resmi bergabung Manchester City dengan banderol 49 juta pound setelah sempat menyatakan tidak mau bermain untuk Brendan meskipun digaji ratusan ribu pound per pekannya.
Melihat daftar lawan yang akan dihadapi oleh di 7 laga awal EPL, Liverpool memiliki peluang yang sangat besar untuk merayakan Natal di luar 5 besar. Semua tergantung bagaimana Brendan mensiasati lawan lawan tangguh yang akan dihadapi di awal musim ini (terutama Stoke City). Jika ngotot memainkan Joe Allen sebagai DMF dan Lovren sebagai LCB jelas bahwa sirkus masih belum pindah dari Merseyside. Tak butuh statistik untuk mengatakan kalau Lovren dan Allen musim lalu bermain tak sesuai harapan (meskipun pemain lain juga banyak yang tak memenuhi harapan. Dengan hobi passing menyamping dan kebelakang apa yang bisa anda harapkan untuk membangun serangan?
Berikut penulis mencoba menerawang lini per lini Liverpool untuk musim 2014/2015
Lini Belakang
Mignolet tampaknya masih akan tetap menjadi kiper nomor satu untuk musim depan karena belum ada tanda tanda dari klub akan mendatangkan Kiper selain Adam Bodgan. Mignolet sudah maksimal di bawah mistar gawang, hanya saja memang lini pertahanan Liverpool saja yang terlalu gampang membiarkan lawan untuk membuat peluang. Seperti ketika Arsenal menghajar Liverpool 4-1 di London, Mignolet telah berkali-kali menyelamatkan gawang di awal lagi namun kemudian memang pertahanan Liverpool yang dengan gampangnya diobok-obok oleh pemain Arsenal terus menerus. Musim depan jika Mignolet bisa tampil konsisten seperti ketika Liverpool tak terkalahkan sepanjang 10 laga berturut-turut, maka asa untuk berada di empat besar itu ada.
Skrtel dan Kolo baru saja memperpanjang kontrak, menunjukkan bahwa Liverpool masih belum berani sepenuhnya melepaskan lini belakang kepada pemain pemain muda. Diharapkan dengan pengalaman yang dimiliki keduanya, mereka bisa menularkan ilmu kepada para juniornya (terutama Lovren). Skrtel adalah pemain andalan Brendan di dua musim terakhir, Skrtel bisa memainkan peran sweeper dengan baik pada formasi 3 bek milik brendan. Bersama dengan Emre Can dan Sakho dia berhasil menumbuhkan asa Liverpool untuk bersaing di zona UCL setelah rentetan hasil positif. Formasi 3 bek brendan mencapai puncaknya ketika Liverpool berhasil merepotkan Chelsea di semifinal Carling Cup, Chelsea tak bisa membuat peluang dan nyaris saja kalah jika tidak ada penalty Eden hazard.
Dengan kedatangan Clyne yang merupakan fullback timnas Inggris, maka musim ini tampaknya formasi 4-3-3 akan kembali dimainkan oleh Liverpool. Pos bek tengah akan menjadi rebutan Skrtel, Sakho, Lovren, dan Kolo. Jika Sakho bisa fit sepanjang musim atau minimal 75% maka Mignolet bisa bernapas lega karena tak harus berjibaku dengan tembakan lawan sepanjang laga. Namun jika Brendan memasang Skrtel-Lovren, maka jantung pendukung Liverpool akan berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sektor bek kiri sudah menjadi milik Moreno ataupun flanagan dan Joe Gomez bisa bergantian mengisinya. Harus diakui musim lalu Moreno banyak mencatatkan error yang menyebabkan terjadinya gol untuk lawan. Dengan usianya yang masih muda harusnya dia bisa belajar dari Jordi Alba tentang bagaimana menjadi bek yang benar, bukan belajar selfie dengan jose enrique.
Lini tengah
Selama pelatihnya masih Brendan maka kemungkinan Liverpool membeli DMF berkualitas tingkatnya sama dengan kemungkinan Taylor Swift langgeng dengan pacarnya, alias di bawah 10%. Emre Can yang sebenarnya merupakan DMF saja dimainkan sebagai ke tengah dan bek kanan. Jadi musim ini Liverpool akan bermain dengan False DMF. Hendo dan milner sudah dipastikan akan mengisi lini tengah, sisa jatah menjadi rebutan Allen, Lucas (kalau tidak dijual) dan Emre can.
Masalah Liverpool sejak jaman Rodgers tetap sama, setiap ada pemain lawan yang masuk membawa bola mendekati kotak penalti maka semua pemain kebingungan dan tak tahu mesti berbuat apa. Itulah kenapa setiap tim lawan yang memiliki gelandang kreatif lebih dari dua orang sudah dipastikan akan menyusahkan Liverpool, contohnya Arsenal dan Manchester united. Dan untuk musim ini tampaknya masalah itu masih belum akan hilang meskipun Liverpool membeli Milner dan Firmino.
Tapi dengan adanya bantuan dari Milner yang merupakan pekerja keras, tugas Hendo dan DMF (entah itu Lucas, Allen, atau Can) untuk mengcover area jelas akan berkurang drastis karena selama ini mereka harus menutupi lubang yang ditinggalkan Gerrard kalau beliau sudah overlaping ke depan. Milner memiliki stamina yang prima dan saya yakin dia bisa mengcover ruang yang bisa menjadi celah lawan untuk melakukan serangan balik.
Lini Depan
Inilah lini yang diharapakan bisa menjadi penyelamat musim Liverpool meskipun baru saja ditinggal oleh Raheem Sterling. Firmino, Coutinho, Lallana, Benteke, dan Jordon Ibe diharapkan bisa menerror pertahanan lawan sehingga liverpool membangun pertahanan dari depan. Dengan sokongan duo Brazil yang tekniknya diatas rata rata harusnya Benteke bisa mencetak lebih dari 20 gol musim ini, apalagi Brendan sudah membeli Clyne yang "hobi" melakukan crossing.
Ada banyak opsi yang dimiliki oleh Brendan dengan stok winger yang melimpah, tergantung bagaimana striker bisa menciptakan ruang atau tidak. Karena itulah pemain seperti Ings dan Origi akan menjadi variasi skema Brendan musim ini. Harusnya dengan kedalaman skuad yang sudah seperti ini minimal Liverpool bisa mendapatkan satu trofi sebagai pelepas dahaga penunda lapar gelar juara EPL.
Thursday, November 13, 2014
Hal-Hal yang Bisa Membuat Liverpool Juara EPL Musim Ini
Tapi penantian Cinta tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penantian Liverpool akan gelar juara Liga Inggris, 24 tahun (dan bakal berpeluang menjadi pesta perak musim ini) tentu bukan waktu yang singkat. Cinta yang menunggu selama 12 tahun saja sampai harus berpikir selama 2 hari untuk membalas LINE dari Rangga yang ingin mengajak untuk bertemu, apalagi Liverpool yang sudah 25 tahun menunggu (3 kali diPHPkan).
Bedanya jika Cinta kemudian penantiannya terbalaskan tidak demikian dengan Liverpool, musim lalu kembali terpeleset setelah sempat hampir menjuarai Liga Inggris di beberapa laga terakhir. Saya tidak ingin membahas momen menyakitkan tersebut, mari kita lupakan sambil menyongsong musim ini. Saya akan mencoba memberikan pendapat tentang apa saja yang membuat Liverpool bisa memenangi pergelaran Liga Inggris musim ini.
1. Harus Menang
Tentu nenek nenek pun pasti tahu kalau sebuah tim ingin juara mereka harus memenangkan pertandingan sebanyak mungkin dan itulah yang harus dilakukan oleh Liverpool di sisa 27 laga jika ingin menjuarai Liga Inggris Musim ini. Secara matematis Liverpool akan mengumpulkan 95 poin di akhir musim jika memenangi seluruh laga sisa. Berat? Ya jelas berat, mana ada kerjaan yang ringan di dunia ini. Menunggu 12 tahun saja berat kok, apalagi menunggu 25 tahun.
2. Berharap Mourinho Amnesia
Percuma jika Liverpool memenangi 27 laga sisa ternyata kemudian Chelsea memenangi 26 laga sisa mereka, Liverpool tetap tidak akan juara dan tagline "We Go Again" kembali menjadi "We Gone Again". Kemungkinan terbaik adalah Mourinho jalan jalan ke New York kemudian tak sengaja membaca buku AKU yang biasa dibaca oleh Rangga dan kemudian mendadak ingat mantan SMAnya sehingga hilang fokus melatih Chelsea dan akhirnya Liverpool juara di akhir musim.
3. City Lupa Ultah Yaya Toure
Tidak bisa dipungkiri City adalah pelaku utama kegagalan Liverpool menjuarai Liga musim lalu, orang orang seperti inilah yang harusnya diPHPkan oleh Rangga, bukan Cinta. Berharap City lupa akan ulang tahun Yaya Toure sehingga yaya ngambek dan permainan City menjadi kacau. Karena seikh mansour doyan gonta ganti pelatih, tentu saja umur kepelatihan Pellegrini tak akan lama jika mereka terus bermain buruk.
4. Membeli Shane Long dari Soton
Sudah menjadi rahasia umum jika Akademi LFC sekarang sudah bukan di kirkby lagi tapi sudah pindah ke kota pelabuhan lainnya yaitu Southampton. Pembelian Lallana, Lambert, Lovren, dan malah ada isu jay Rodriguez sudah menjadi bukti yang sahih bahwa Soton adalah akademi baru LFC. Membeli Shane Long jelas akan membuat Liverpool memiliki satu permintaan yang pasti akan dikabulkan. Sekarang tergantung bagaimana permintaan tersebut dan siapa yang pertama kali mengajukan permintaan kepada Shane Long. Jika Rojes meminta gelar juara EPL maka sudah dipastikan penantian selama 24 tahun ini akan segera berakhir, tapi kalau Gerrard yang muncul dan minta perpanjangan kontrak sudah dipastikan trofi EPL akan kembali melayang karena Shane Long hanya melayani satu permintaan.
Thursday, November 6, 2014
Menunggu Diamond dan Perubahan Line Up LFC
Pekan ke 11 ini Liverpool menjamu Chelsea dengan modal kekalahan dua kali beruntun dari Newcastle dan Real Madrid, sementara Chelsea adalah pemimpin klasemen EPL dengan 26 poin dan satu satunya tim yang belum tersentuh kekalahan musim ini. Catatan yang mungkin agak membuat sejumlah pendukung Liverpool gundah gulana karena tim kesayangannya terancam hattrick kekalahan beruntun. Meskipun demikian, saya bukanlah kaum pesimis tersebut. Saya memiliki keyakinan Chelsea tidak akan semudah yang orang bayangkan untuk memporak-porandakan Anfield.
Siapakah tim dengan pertahanan terbaik di EPL musim ini? Bukan, bukan Chelsky Bus Company tapi Southampton, tim yang pada pekan pertama dikalahkan Liverpool 2-1. Memang ketika itu pemain pemain baru belum terlalu nyetel dengan strategi Koeman sehingga alasan untuk mengatakan "Liverpool are shit" selalu saja ada. Tapi pertahanan Chelsea juga tak terlalu spesial, mereka telah kebobolan 10 gol dan hanya 3 kali sukses clean sheet di EPL, bahkan Everton bisa membobol gawang mereka sebanyak tiga kali. Come on, pertahanan mereka tak seperti 2004-2005 yang hanya kebobolan 15 kali sepanjang musim dan sukses mencatatkan 25 kali clean sheet.
Ada banyak celah yang harusnya bisa dimanfaatkan oleh Liverpool sabtu nanti dengan catatan Rodgers tidak ngotot untuk main menyerang habis habisan, karena itu sama saja dengan bunuh diri. Curtois tidaklah sebagus Petr cech dalam urusan menjadi shot stopper dan ini harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin oleh Balotelli yang punya hobi menembak dari luar kotak penalti (karena untuk bisa masuk kedalam kotak penalti adalah hal yang sangat sulit). Menembak dari luar kotak penalti adalah pilihan yang tepat untuk memecahkan kebuntuan ketika membongkar pertahanan Chelsea.
Absennya Costa harusnya bisa dimanfaatkan dengan maksimal oleh Rodgers, karena Drogba tidaklah setangguh beberapa musim yang lalu. Masalah finishing jelas krusial bagi mourinho sedangkan Hazard bukanlah gelandang haus gol. Meskipun agak sedikit panik kalau harus membayangkan Glenjo akan menjada Hazard di sektor kanan, sedangkan Gerrard harus berjuang mengcover area tengah di sana ada fabregas dan Oscar, sungguh sulit, membayangkan saja sulit.
Masalah siapa yang bakal starting pun kembali menjadi masalah yang pelik terutama setelah Liverpool B sukses mencegah kebobolan lebih banyak dari Real Madrid di Bernabeu, banyak yang menyatakan formasi seperti itulah yang harusnya diterapkan Rodgers ketika menjamu Chelsea sabtu nanti. Liverpool B berhasil meredam counter attack mematikan Real Madrid dan konon katanya sampai saat ini C. Ronaldo masih belum ditemukan pasca "dikocekin" sama Kolo Toure.
Mengenai masalah Lovren, jelas saja soal pengalaman dan mental doi kalah dari Kolo Toure yang merupakan salah satu personel Arsenal ketika mereka mengalahkan Real Madrid 1-0 di Bernabeu jadi harusnya tidak ada yang heran kenapa Kolo bisa bermain apik kemarin. Penampilan apik Kolo hendaknya memacu Lovren untuk segera kembali ke bentuk permainan terbaik seperti ketika menghadapi Dortmund di pre season kalau tidak ingin dicap sebagai "Aspas Edisi Defender". Dengan usia yang masih muda harusnya Lovren bisa belajar lebih cepat seperti yang dilakukan oleh Skrtel musim lalu padahal usianya sudah tak muda lagi.
Memilih slot tengah jelas pekerjaan yang sangat sulit apalagi dengan adanya kapten yang tak mungkin tergusur serta mesin permainan bernama Henderson membuat pertandingan melawan Madrid seolah seleksi bagi Allen, Lucas, dan Can untuk memperebutkan satu slot selain Hendo dan Gerrard. Sungguh tak adil jika mengingat peforma apik ketiganya ketika meredam lini tengan Madrid yang berisikan Modric, Kroos, James, dan Isco namun sistem Rodgers sudah seperti itu dan mereka bertiga harus menerimanya sampai paling tidak hingga si kapten tak lagi memperpanjang kontrak atau pensiun.
Lini depan akan menjadi jatah Sterling, Balo, dan mungkin Coutinho, yang mana formasi ini begitu buntu ketika menghadapi Newcastle sampai sampai tidak menghasilkan satupun shot on target babak pertama. Mungkin saatnya Rodgers mempertimbangkan Diamond dengan menduetkan Borini dan Balotelli yang disupport oleh Sterling karena ada statistik dari @natefc yang mengungkapkan bahwa Sterling sangat tidak efektif jika di letakkan disebelah kanan. Jika demikian, emncoba diamond adalah kesempatan terbaik Rodgers jika tidak ingin Liverpool berjarak 6 poin dengan peringkat 4 (maaf kita terlalu jauh dengan Chelsea).
Good Bless Liverpool...
Saturday, October 25, 2014
IN RODGERS WE MUST TRUST !!!
Kehilangan Suarez merongrong seluruh kekuatan Liverpool ditambah lagi dengan absennya Sturridge karena cedera semakin membuat daya gedor lini serang semakin tak bergigi. Bahkan saking tak bergiginya sampai sampai Caulker dan Dunn yang akhirnya memasukkan bola ke dalam gawangnya sendiri karena mungkin frustasi melihat serangan Liverpool tak sekalipun membahayakan gawang mereka. Kehilangan Suarez benar benar berdampak sistemik (meminjam istilah kasus Bank Century) terhadap kekuatan Liverpool, bukan hanya karena kehilangan tukang cetak gol dan assist tapi karena Suarez adalah garis pertahanan pertama yang bertugas melakukan pressing dan intimidasi kepada bek bek dan gelandang bertahan lawan sehingga tidak leluasa membangun serangan dari bawah. Bek lawan akan panik dan tidak leluasa memainkan bola ketika melihat Suarez mendekat karena jika kehilangan bola sama saja dengan bunuh diri. Pressure terhadap bek lawan lah yang musim ini tidak dimiliki oleh Liverpool, Balotelli jelas tidak mampu memberikan rasa takut karena dia adalah tipikal striker statis yang coverage nya tidak luas sehingga bek lawan akan dengan leluasa memainkan bola untuk membangun serangan.
Masalah pertahanan sendiri sudah terlihat sejak musim 2012/2013 di mana Liverpool kemasukan 47 gol, turun dari musim sebelumnya yang mana kemasukan 40 gol. Rodgers adalah pelatih yang memainkan taktik menyerang sehingga kebobolan sampai 50 gol musim lalu tertutupi oleh 101 gol yang berhasil disarangkan ke gawang musuh. Liverpool di era King Kenny hanya mampu memasukkan 47 gol, sedangkan Rodgers di musim pertamanya berhasil membuat Liverpool mencetak 71 gol. Peningkatan yang signifikan menunjukkan bahwa Rodgers membenahi Liverpool dimulai dari lini depan dan musim lalu kemampuan lini serang sudah tak diragukan lagi.
Di bursa transfer musim panas 2014 Liverpool melepas Suarez (pemain yang berkontribusi terhadap 40% gol tim) ke Barcelona sekaligus memecahkan rekor penjualan sebelumnya atas nama Fernando Torres. Disinilah cobaan itu dimulai, Rodgers harus bisa memaksimalkan dana hasil penjualan Suarez dan mendatangkan pemain pemain berkualitas lainnya yang bisa menambal lubang yang ditinggalkan Suarez (walaupun tidak mungkin). Berhubung tidak mungkin mendatangkan pengganti yang sepadan dengan Luis Suarez maka Liverpool pun berinvestasi dengan mendatangkan sejumlah pemain muda berbakat untuk mengisi slot lapangan tengah dan membeli sejumlah pemain bertahan.
Ternyata membeli pemain bertahan baru pun tidak bisa membuat pertahan Liverpool membaik, malah semakin terlihat seperti pertahanan tim tim yang baru promosi. Sistem pertahanan adalah masalah utama, bukan individu seperti Lovren, Manquillo, ataupun Moreno. Saya melihat baik SKrtel maupun Lovren hampir selalu memenangi aerial duel ketika ada longpass menuju area pertahanan, namun keduanya menjadi tak berdaya ketika menghadapi set pieces. Liverpool telah kebobolan 12 gol musim ini dan hanya sekali berhasil clean sheet yaitu ketika bertandang ke White Hart Lane.
Isu pertahanan membuat ROdgers gerah dan akhirnya meskipun baru saja dihajar Madrid 3 gol tanpa balas di Anfield dia melontarkan pernyataan bahwa Liverpool tidak membutuhkan pelatih defense (what a banter). Rodgers menegaskan bahwa Liverpool harus tetap menyerang dan atraktif, tidak memarkir pemain (walaupun saya tidak yakin Liverpool bisa memainkan strategi parkir bis) dan mementingkan hasil akhir. Keras kepalanya Rodgers membuat saya salut, dia tidak peduli dengan ocehan orang lain (termasuk carragher dan gary neville) dan tetap mempertahankan filosofi menyerangnya untuk membangun kembali kejayaan tim Merseyside Red (wait, what glory?).
Saya yakin Rodgers akan berhasil mengatasi persoalan lini serang Liverpool seiring dengan berjalannya waktu (tsaaahhh), masih ada 30 pertandingan tersisa dan sekarang LFC ada di peringkat 5 diatas Arsenal, Manchester United, dan Everton. Di saat Sturridge cedera dan tim masih belum padu Liverpool masih berada di peringkat 5, apalagi yang harus diragukan? Dengan kembalinya Sturridge serta semakin klopnya anak baru dengan filosofi Rodgers saya yakin Liverpool masih bisa finish di 4 besar EPL serta melangkah jauh di turnamen turnamen lainnya. Lagipula ROdgers telah berhasil melampaui target awal ketika ditunjuk sebagai pelatih yang mana target Rodgers pada saat itu adalah membawa Liverpool kembali ke UCL dalam waktu 3 tahun (sekarang tahun ketiga dan LFC sudah di UCL).
Saya memang tidak pernah berharap untuk cleansheet, karena cleansheet tanpa mencetak gol toh percuma. Bahkan jikapun Carragher dan Hyppia terlahir muda kembali saya tidak yakin mereka bisa mengatasi masalah di lini pertahanan karena memang sudah dari taktik Rodgersnya yang seperti itu. Masih ingat ketika dilatih King Kenny? LFC kesulitan mencetak gol meskipun pertahanan terbilang cukup tangguh dan hanya bisa finnish di tempat ke 8. Shit defense, great attack itulah yang saya harapkan dari anak asuh Brendan musim ini. Mari kita tunggu sampai dengan Desember apakah kemampuan mencetak gol Liverpool akan kembali atau malah mengulangi musim 2011/2012...
IN RODGERS WE MUST TRUST !!!
Thursday, September 4, 2014
Kejutan Dari Skuad Baru Bayer Leverkusen
Leverkusen menunjuk manajer Red Bull Salzburg, Roger Schmidt sebagai suksesor Sami Hyppia untuk mengarungi ketatnya musim 2014/2015 ini. Rudi Voeller pun bergerak cepat di bursa transfer, setelah kepergian Emre Can ke Liverpool mereka langsung mendatangkan Hakan Calhanoglu, Josip Drmic, Wendell, Tin Jedvaj, serta meminjam Kyriakos Papadopoulos. Sejumlah pemain pinjaman pun telah kembali dari masa peminjaman termasuk Karim Bellarabi yang baru saja selesai dari Braunschweig.
Dengan datangnya Hakan Calhanoglu maka formasi Leverkusen pun berubah dari sebelumnya 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 dan Calhanoglu dimainkan di belakang striker. Hengkangnya Sidney Sam tidak membuat Roger panik karena dia telah mendapatkan penggantinya pada seorang Karim Bellarabi, pemain yang mencetak satu gol dan satu assist ketika Leverkusen berhasil Dortmund di kandangnya sendiri dengan skor 0-2.
Berhasil menaklukkan Dortmund di Iduna Park sudah menjadi bukti bahwa Leverkusen tidak bisa dianggap remeh musim ini terlebih setelah anak asuh Roger Schmidt ini menyingkirkan FC Copenhagen dengan aggregat 7-2 untuk memastikan satu tempat di babak grup Liga Champions. Kombinasi pemain senior dan junior berjalan dengan baik sejauh ini, terlebih setelah bergabungnya pemain pemain baru. Hakan sendiri baru berumur 20 tahun, Tin Jedvad 18 tahun, sementara kiper yang menjadi pahlawan melawan Dortmund, Bern Leno genap 22 tahun. Mereka bergabung dengan Kiessling (30 tahun), Emir Spahic (34 tahun), dan Rolfes (32 tahun) untuk menjadikan Leverkusen sebagai penantang serius Bayern Munchen musim ini.
Friday, August 29, 2014
Mitos Edisi Kedua
Musim 2013/2014 berjalan dan Sakho tak kunjung berduet dengan Daniel Agger di lini belakang Anfield Gank, bahkan malah Skrtel yang posisinya tak tergantikan sampai musim berakhir. Nasib Agger kini semakin tidak jelas dan Skrtel yang sekarang tenang tenang saja karena posisinya aman sebagai bek tengah andalan Brendan. Roda memang berputar dengan sangat cepat, jadi Sakho didatangkan bukan untuk berduet dengan Agger tapi untuk bersaing dan hasilnya sang marquee signing yang menjadi pilihan utama.
Transfer musim panas kali ini Liverpool menebus Dejan Lovren dari Southampton seharga 20 juta pound dan diharapkan bisa menambal lubang di lini pertahanan. Namun ternyata meskipun bukan kidal, Lovren adalah LCB sama seperti Sakho dan kembali mitos duet LCB menghantui. Bisakah dua LCB bermain bersamaan? Lantas bagaimana nasib Sakho? Hingga pekan ke dua belum sekalipun brendan memainkan Sakho, dua laga awal selalu duet Skrtel-Lovren yang menjadi pilihan utama Brendan. Sambil menunggu pekan pekan bergulir mari kita nantikan mitos edisi ke dua kali ini... YNWA
Tuesday, August 19, 2014
Problem Menentukan Duet Bek Tengah
Lupakan tentang BIG FOUR karena itu bukanlah topik pembahasan kali ini, yang menjadi topik kali ini adalah Martin Skrtel, bek tengah Liverpool yang musim lalu mendapatkan penghargaan sebagai Defender Terbaik versi whoscored. Terlepas dari layak atau tidaknya Skrtel mendapatkan penghargaan tersebut tentu saja hal tersebut bukan merupakan urusan saya karena whoscored punya formula dan standar sendiri dalam menilai pemain berdasarkan statistik dan bukan omong kosong di twitter apalagi kompilasi video di Youtube.
Martin Skrtel kembali menjadi pilihan utama Brendan Rodgers di musim ini, pada laga pembuka EPL minggu lalu bek asal Slovakia ini berduet dengan Dejan Lovren di jantung pertahanan Liverpool yang berarti Sakho harus rela menjadi benchwarmer pada laga kali ini. Disinilah saya secara pribadi agak heran dengan pilihan Rodgers, Skrtel berhasil membuat Mamadou Sakho (bek yang tampil luar biasa apik selama pergelaran World Cup 2014) hanya duduk manis di bangku cadangan. Berarti dapat di simpulkan bahwa bek 17 juta pound harus bersaing dengan bek 20 juta pound untuk memperebutkan satu tempat di sisi Skrtel.
Namun patut disadari bahwa meskipun "right footed" ternyata Dejan Lovren bukanlah RCB seperti Skrtel, dia lebih sering dimainkan sebagai LCB oleh Pocchetino musim lalu di Southampton. Dengan demikian berarti Lovren harus bersaing dengan Sakho untuk menjadi starting eleven, padahal saya berharap Sakho dan Lovren yang menjadi tembok pertahanan Liverpool. Rodgers tentu punya pertimbangan yang matang mengenai keputusan ini dan kita tahu bahwa mantan pelatih Swansea ini selalu punya cara untuk mengatasi masalah seperti ini. Musim lalu banyak yang ragu apakah Sturridge dan Suarez bisa bermain bersamaan dan Rodgers berhasil mengotak atik formasi untuk menyatukan mereka sehingga keduanya menjadi duet striker paling mematikan di Liga Inggris. Artinya jangan pernah ragu mengenai masalah Sakho dan Lovren ini, manager Liverpool pasti punya cara untuk menjadikan mereka sebagi duet bek terbaik seperti yang dilakukannya terhadap duet SAS musim lalu.
Sekarang pertanyaanya adalah apakah betul Skrtel tidak sebaik Sakho dan Lovren? Untuk laga pertama saya mencoba membuka whoscored dan squawka untuk mencari jawaban dari pertanyaan ini karena saya tidak paham mengenai cara bermain yang baik dan benar jadi saya hanya membuat kesimpulan berdasarkan dari statistik yang disediakan oleh kedua situs ini.
Yang pertama adalah berdasarkan whoscored, Skrtel mendapatkan rating 8.5 di laga melawan Southampton dan hanya Raheem Sterling yang ratingnya lebih baik di Liverpool (8.9), bahkan Skrtel menempati urutan ketujuh dari seluruh pemain EPL, berdasarkan rating whoscored Skrtel lebih baik dari Lovren (7.6).
Berikut ini adalah statistik lain perbandingan Lovren dan Skrtel.
Sedangkan menurut squawka bahkan Skrtel meraih skor tertinggi yaitu 67, lebih baik dari Sterling (60) dan Lovren (46). Memang statistik tidak bisa sepenuhnya dijadikan acuan dalam menentukan baik atau tidaknya pemain, tapi statistik juga tidak bisa berbohong (tidak seperti kompilasi video di youtube). Skrtel memenangi 7 dari 8 aerial duelnya yang menunjukkan bahwa sekiranya Skrtel masih tangguh untuk urusan duel udara meskipun belum berduel dengan striker striker raksasa.
Karena baru satu pertandingan tentu saja saya tidak bisa mengatakan apakah Skrtel lebih baik atau tidak dari Lovren dan Sakho, namun yang pasti Skrtel adalah salah satu pemain kunci Liverpool di sektor pertahanan musim lalu.
Wednesday, June 25, 2014
Meksiko, Negara 16 Besar Piala Dunia
Kroasia tentu saja lebih diunggulkan dengan bermaterikan sejumlah pemain yang bermain di klub top eropa seperti Luka Modric (Real Madrid), Mandzukic (Bayern Munchen), Ivan rakitic (Sevilla, dan baru saja bergabung ke Barcelona), dan Kovacic (Inter Milan). Meksiko kebanyakan memakai pemain Liga lokal mereka termasuk sang kapten Marquez, hanya Javier "Chicarito" Hernandez yang bermain di Liga Inggris dan itupun hanya menjadi pelapis dari Danny Wellbeck (tentu saja kemudian semua orang paham kenapa Miguel Herrera lebih memilih Peralta ketimbang Chicarito, bagaimana mungkin anda akan memakai penyerang yang hanya merupakan pelapis Welbeck di ajang sekelas Piala Dunia).
Namun ternyata meskipun diperkuat oleh pemain top, Kroasia tidak bisa berbuat banyak ketika menghadapi Meksiko dan mereka kandas 1-3 sekaligus harus bersiap siap mengemas kopernya untuk menyusul Spanyol dan Inggris. Rakitic pun bisa langsung mengunjungi markas klub barunya untuk sesi foto foto sehingga akun twitter @barcastuff punya sejumlah foto untuk diuploadnya untuk menghibur para followernya yang kecewa setelah Barcelona gagal di tiga kompetisi musim ini.
Meksiko berhasil menjaga tradisi mereka yang selalu lolos ke babak 16 besar sejak tahun 1994, bahkan tim yang diperkuat oleh pemain juara UCL tidak mampu membendung mereka, sungguh penegasan bahwa tradisi tidak bisa dianggap remeh di ajang Piala Dunia. Inggris (terutama Roy Hodgson) harus mencontoh bagaimana cara Meksiko menjaga tradisi mereka di Piala Dunia bukan malah membuat rekor baru dengan pulang awal seperti yang terjadi barusan.
Rekor Meksiko unik, mereka memang selalu berhasil lolos dari babak grup di Piala Dunia sejak tahun 1994, namun benar benar sebatas sampai di babak 16 saja tidak pernah lebih. Meksiko kesulitan untuk bisa mengulangi pencapaian di tahun 1970 dan 1986 ketika mereka berhasil menembus perempat final. Memang Piala Dunia tak semudah piala emas Concacaf di mana saingan Meksiko hanyalah Amerika Serikat yang lebih doyan melakukan touch down atau slam dunk ketimbang mencetak gol, jadilah Meksiko penguasa sejati di zona Concacaf.
Finish sebagai runner-up grup A membuat Meksiko harus menghadapi Belanda yang sedang onfire dengan 3 kemenangan di grup B dan peluang meksiko untuk memperpanjang rekor mereka yang selalu berakhir pada babak 16 besar di 20 tahun terakhir Piala Dunia akan kembali menguat. Sebenarnya mereka berhasil terhindar dari Argentina yang selalu menyingkirkan mereka pada babak 16 besar di dua edisi terakhir Piala Dunia, namun dengan harus bertemu Belanda tampaknya meksiko harus bersiap untuk memperpanjang catatan mereka sebagai "spesialis 16 besar Piala Dunia".
Rafael Marquez tentu saja ingin Meksiko melangkah lebih jauh di Piala Dunia kali ini, namun seperti yang kita tahu bahwa Robben selalu saja berlari jadi tidak ada harapan bagi mereka untuk bisa menghentikan Robben dengan hanya "melangkah lebih jauh"...kecuali Robben terpeleset
Wednesday, June 11, 2014
Mengintip Skuad Algeria di World Cup 2014
Sektor Belakang
Algeria memang tidak memiliki kiper yang pernah mencicipi liga liga top, namun tidak dengan defendernya, ada beberapa nama yang tengah bersinar di klubnya masing masing di antaranya adalah Faouzi Ghoulam yang baru saja meraih gelar juara Coppa italia bersama Napoli. Ghoulam selalu menjadi andalan Rafael Benitez sebagai bek kiri di Serie-A sejak kedatangannya dari Saint Etienne di Januari lalu. Essaid Belkalem (Watford, on loan from Granada), Madjid Bougherra (Lekhwya Club), Liassine Cadamuro (Mallorca), Faouzi Ghoualm (Napoli), Rafik Halliche (Academica Coimbra), Aissa Mandi (Stade Reims), Carl Medjani (Valenciennes), Djamel Mesbah (Livorno), Mehdi Mostefa (AC Ajaccio). Meskipun bukanlah tipe pemain kelas dunia, tapi jelas pasti akan bisa memberikan perlawanan sengit kepada 3 kontestan lain dan tidak akan membiarkan gawang mereka dibombardir dengan mudah.
Gelandang
Praktis nama top yang mengisi slot tengah Algeria hanyalah Bentaleb dan Brahimi, Bentaleb sempat tampil menjanjikan di bawah asuhan Tim Sherwood meskipun pada akhirnya Pochetinno yang menjadi manajer baru Spurs musim depan sedangkan Brahimi adalah pemain dengan dribel sukses terbanyak di La Liga musim 2013/2014 menurut Whoscored, lebih banyak dari Lionel Messi, Neymar, Muniain, dan lain lainnya. Meskipun demikian, sulit untuk berharap gelandang Algeria lainnya akan mampu mengimbangi gelandang top milik Belgia.
Selain dua nama di atas terdapat nama nama lain yang juga bermain di Eropa mereka adalah Medhi Lacen (Getafe), Saphir Taider (Inter Milan) dan Hassan Yebda (Udinese). Saphir Taider merupakan gelandang muda berbakat yang dibeli Inter dari Bologna, dengan umur yang masih 22 tahun dan Inter yang dibawah kepemilikan baru tentu saja Taider ini masih bisa berkembang lebih baik.
Terlepas dari nama nama sebelumnya, Sofiane Feghouli akan menjadi tumpuan di lini tengah Algeria. kreatifitasnya duharapkan setidaknya mampu untuk membongkar lini pertahanan musuh karena dia sudah memiliki pengalaman yang cukup di Valencia dan sudah bertarung dengan gelandang gelandang top di La Liga, jadi setidaknya dia bisa menularkan ilmu yang sudah dimilikinya kepada rekan rekan lainnya.
Penyerang
Masalah yang sangat serius sebenarnya ada di sektor penyerang, nyaris tidak ada nama top di sana Abdelmoumene Djabou (Club Africain), Nabil Ghilas (Porto), Riyad Mahrez (Leicester City), Islam Slimani (Sporting Lisbon, Portugal) dan Hilal Soudani (Dinamo Zagreb) tampaknya akan sulit untuk meenjadi tumpuan untuk mencetak gol kecuali jika ada dari antara mereka yang jago membuka ruang sehingga gol datang dari lini kedua yang mungkin lebih bisa membahayakan gawang lawan.
Hilal Soudani mungkin akan menjadi pilihan utama, karena dia adalah pemain asli kelahiran Algeria. Harap maklum bahwa pemain di timnas Algeria ini banyak berisi anak anak yang lahir dan besar di Prancis yang kemudian memutuskan untuk membela tanah asal orang tuanya. Tidak ada yang tidak mungkin, tinggal bagaimana saja Algeria menghadapi Russia dan Korea Selatan agar paling tidak bisa memberikan kejutan dengan lolos ke babak 16 besar.
Tuesday, June 10, 2014
Menanti Kejutan Negara Penghasil Jam Tangan
Swiss bukanlah kekuatan baru di ajang Piala Dunia, pegelaran kali ini adalah untuk yang ke sepuluh kalinya mereka berkompetisi di pesta sepakbola empat tahunan tersebut. Prestasi terbaik Swiss di ajang turnamen yang dulu bernama Jules Rimet Cup ini adalah mencapai babak perempatfinal di tahun 1934 dan 1938 dimana turnamen ini dimenangkan oleh Mussolini dengan paham fasisnya serta ketika menjadi tuan rumah di tahun 1954. Tapi pasca menjadi tuan rumah prestasi Swiss di Piala Dunia cenderung turun drastis, bahkan mereka sempat absen di 6 Piala Dunia rentang tahun 1970 sampai 1990. Ketika Jerman menjadi tuan rumah di tahun 2006 Swiss sempat memberikan kejutan dengan menjadi pemimpin grup G di mana pada grup ini mereka bergabung bersama Prancis, Togo, dan Korea Selatan. Sayangnya kiprah Frei dan kawan kawan hanya sampai di babak 16 besar setelah 3 penendang penalti mereka tidak ada satupun yang bisa menjebol gawang Shovkhovskiy di babak tos tosan. Dan satu hal yang paling penting adalah bahwa bek kanan Swiss pada saat itu adalah Philip Degen!
Banyak yang bingung kenapa Swiss bisa menduduki ranking ke 6 di FIFA dan itu menjadi pelecut dari pemainnya bahwa mereka bisa berbuat banyak di Piala Dunia kali ini. Tergabung di grup yang tergolong ringan di babak kualifikasi zona Eropa membuat anak asuh Ottmar Hitzfeld ini tidak menemui kesulitan yang berarti dan berhasil lolos langsung tanpa sekalipun menelan kekalahan. Dilatih oleh pelatih berpengalaman sekaliber Ottmar Hitzfeld yang sudah memenangi 19 trofi termasuk dua trofi Liga Champions tentu saja menjadi nilai lebih bagi Swiss dan tentu saja kali ini mereka akan berusaha agar tidak hanya menjadi tim pelengkap.
Ottmar Hitzfeld biasanya memakai formasi 4-2-3-1 yang mana dua fullback sudah menjadi jatah dari Ricardo Rodriguez di sektor kiri serta Lichtsteiner di kanan. Ricardo Rodriguez adalah bek kiri terbaik Bundesliga musim ini (menurut saya), di mana bersama Wolfsburg musim ini dia telah mencetak 5 gol dan membuat 9 assist, tentu saja catatan itu sudah luar biasa bagi pemain yang baru saja berumur 21 tahun. Untuk duet bek tengah Swiss mempunyai begitu banyak daftar bek yang bermain baik di klubnya masing masing di mulai dari Fabian Schaer yang merupakan bek tengah andalan FC Basel (silakan cek statistik penampilan bek 22 tahun ini di whoscored.com dan liat rataan intersep dan tekelnya), setelah Fabian Schaer Swiss masih punya Djourou yang sekarang menjadi andalan Hamburger SV setelah tak mampu bersaing di Arsenal. Selain dua nama di atas jangan lupakan juga Sanderos yang kini bermain di Valencia, Micahel Lang yang berhasil membawa Grasshopper finish sebagai runner up Super League serta bek senior von Bergen yang sudah begitu berpengalaman di sejumlah Liga top Eropa.
Sebagai pengisi di dua slot Pivot tentu saja sudah menjadi jatah dari duo pemain Napoli yakni sang kapten Gokhan Inler dan Valon Behrami, duet Pivot yang sudah memberikan bukti di Napoli dan tentu saja bisa menjadi andalan Swiss di ajang Piala Dunia kali ini. Pelapis dari mereka berdua ada Gelson Fernandes (SC Freiburg) dan Dzemaili yang kebetulan juga setim dengan Inler dan Behrami. Sedangkan untuk tiga pemain yang akan menyokong striker mereka Xherdan Shaqiri (Bayern Munich), Valentin Stocker (Basel) yang mencetak 13 gol di Super League, dan Granit Xhaka (Borussia Monchengladbach) yang katanya sempat di isukan diincar Liverpool namun kabarnya hilang berganti dengan Shaqiri. Kreatifitas bukanlah masalah bagi Swiss, Shaqiri akan menjadi kunci kreatifitas dari mereka.
Swiss memiliki begitu banyak penyerang muda yang sedang naik daun, mereka adalah :
- Josip Drmic : penyerang 21 tahun andalan Nurenberg yang mencetak 17 gol di Bundesliga namun sekarang sudah deal pindah ke Leverkusen pasca timnya turun kasta, mungkin di proyeksikan oleh Rudi Voeller untuk menggantikan Stefan Kiessling.
- Admir Mehmedi : mencetak 12 gol dan 4 assist bersama Freiburg, dengan umur 23 tahun jelas bahwa Mehmedi masih memiliki banyak waktu untuk tampil bersama timnas Swiss
- Mario Gavranovic : Striker 24 tahun asal klub FC Zurich yang telah mencetak 13 gol dan 8 kartu kuning, melihat kiprahnya tampaknya dia tidak akan menjadi pilihan utama Ottmar di Brazil kali ini
- Haris Seferovic : top skor Piala Dunia U-17 tahun 2009 dan merupakan aktor utama yang membawa Swiss meraih gelar juara bersama Granit Xhaka, Ricardo Rodriguez, dan Kasami. Seferovic memang hanya mencetak dua gol bersama Sociedad musim ini, namun Ottmar tetap memanggilnya untuk bersaing memperebutkan tempat sebagai ujung tombak dari timnya.
Masalah Swiss memang masih kurang berpengalamannya para striker mereka terlebih setelah Derdiyok tidak masuk ke dalam daftar yang dibawa ke Brazil, namun di bawah tangan dingin Ottmar Hitzfeld tentu saja Swiss bisa menampilkan sesuatu yang berbeda di pegelaran kali ini. Dan oh ya, kiper mereka adalah Benaglio, kiper Wolfsburg tim yang musim lalu kebobolan 50 gol di Bundesliga.
Mari kita nantikan sejauh mana kiprah Swiss di Brazil di mulai dari Grup E dimana mereka bergabung bersama Prancis, Ekuador, dan Honduras.
Friday, May 30, 2014
Season Review : Lucas Leiva
Lucas kesulitan mendapatkan tempat di skema baru Liverpool pada musim ini di karenakan Rodgers telah mengubah Gerrard menjadi Deep-playmaker yang membuatnya butuh pelindung yang mobile untuk melakukan pressing terhadap lawan bukan seorang enforcer yang melakukan tekel dan intersep terhadap lawan. Jika di musim lalu Lucas masih bermain di belakang Gerrard untuk melindungi ke empat backfour ketika melakukan serangan maka di musim ini Liverpool tidak membutuhkan seorang anchorman setelah sang kapten menempati posisi barunya yang hampir sejajar dengan bek tengah. Henderson menjadi saingan utama Lucas untuk bersaing menempati slot di sektor tengah ditambah sembuhnya Joe Allen membuat ayah Pedro ini harus berjuang keras untuk menembus starting line up Liverpool.
Jumlah rataan tekel dan intersep Lucas pun jauh menurun dibandingkan dengan musim lalu setelah Liverpool mengalami perubahan skema musim ini, tercatat menurut whoscored.com tekel dan intersep Lucas pada musim 2012/2013 adalah 4,7 dan 2,5 yang kemudian turun menjadi 3,3 dan 1,9 di musim 2013/2014 padahal Liverpool adalah tim dengan rataan tekel paling banyak di EPL musim ini. Jadi kini Brendan tidak menuntut seorang gelandang untuk melakukan tekel tapi harus rajin melakukan pressing karena sadar duet bek tengahnya tidak ada yang melindungi jika pemain kreatif lawan dibiarkan berlama lama menahan bola.
Beruntunglah Lucas karena Brendan Rodgers sering berganti ganti formasi jadi dia tetap kebagian "jatah" untuk main meskipun kadang harus menunggu pemain lain absen. Ketika Gerrard absen di penghujung tahun Lucas mengisi slot tengah bersama Allen dan Henderson dan hasilnya tidaklah terlalu buruk bahkan sempat menghajar Spurs 5-0 di White Heart Line. Walaupun sempat merasakan dua kali kalah beruntun dari Chelsea dan Manchester City tapi lini tengah Liverpool tidak menjadi bulan bulanan Yaya Toure dan kawan kawan seperti tim tim lainnya.
Ketika Henderson harus absen 3 laga akibat kartu merah Lucas pun harus harus mengisi slot yang ditinggalkannya di saat saat yang krusial di mana Liverpool sedang berjuang untuk meraih gelar EPL pertamanya. Namun Lucas dinilai tak cukup baik untuk menggantikan Henderson dan dianggap gagal melindungi backfour Liverpool. Sebenarnya Lucas tidak bermain buruk, tapi karena dia ditempatkan di posisi baru membuatnya belum sempat beradaptasi ditambah lagi Jordan Henderson yang tampil sangat baik sepanjang musim membuat peforma Lucas yang sebenarnya standar terlihat buruk.
Musim telah berakhir dan isu Lucas bakal dijual kembali berhembus, kali ini Inter Milan dikabarkan meminatinya untuk bermain di Serie-A. Terlepas dari kesulitannya beradaptasi dengan skema baru Brendan, Lucas pernah menjadi pemain terbaik Liverpool dan begitu merindukannya ketika dia mengalami cedera di musim 2011/2012. Hey Lucas, I still love your tacke
Season Review : Daniel Sturridge
Kembalinya Suarez dari masa skorsing sempat memunculkan isu kalau keduanya akan sulit saling berbagi karena diperediksikan akan sama sama ngotot untuk mencetak gol. Namun ternyata semua prediksi tersebut meleset, laga melawan Sunderland menjadi bukti sahih bahwa dua striker haus gol bisa saling bekerja sama untuk memenangkan timnya. Catatan 7 assist yang semuanya berasal dari open play menunjukkan bahwa Sturridge tidak semaruk yang orang katakan, dia adalah striker terbaik yang dimiliki oleh Inggris saat ini.
Mencetak 21 gol serta 7 assist semusim di liga terkompetitif di dunia tentu bukanlah hal yang mudah dan Sturridge berhasil melakukan pekerjaan tak mudah itu. Selebrasi dansa ciri khasnya telah mewarnai musim luar biasa Liverpool, kini tidak ada yang meragukan lagi kapasitasnya sebagai salah satu striker yang menakutkan di EPL (lebih baik dari Welbeck tentunya). Meskipun golnya di laga melawan Crystal Palace dianggap sebagai own goal bek lawan, FA tetap saja gagal membuat duet maut Liverpool gagal menjadi pimpinan daftar pencetak gol karena pada match terakhir Sturridge berhasil mencetak gol ke gawang Newcastle.
Sturridge terkadang memang agak menyebalkan karena sering berlama lama menahan bola di kakinya yang kadang kadang malah direbut oleh lawan sehingga ketika nobar di Cafe Raja sampai ada yang berteriak "WOY, PASSING LAH WOY". Tapi hey dia mencetak 21 gol, sudah lama sekali tidak ada striker Liverpool yang mencetak diatas 20 gol selain Suarez di musim lalu dan dia berharga 12 juta pounds, bukan 35 apalagi 50.
Sturridge kini bakal menjadi andalan utama Hodgson di Piala Dunia Brazil dan kita berharap tidak ada cedera yang menerpanya karena pemain nomor punggung 15 ini kerap mengalami cedera setelah membela timnas, entah apa yang dilakukan Roy Hodgson terhadap para pemainnya sehingga selalu ada saja yang membawa cedera ketika kembali ke klubnya masing masing. Setelah menunaikan tugasnya membela Inggris kita berharap dansa khasnya akan selalu terlihat di setiap laga musim depan karena Liverpool akan berlaga di empat kompetisi dan membutuhkan lebih banyak gol dari dirinya.
Tuesday, May 27, 2014
Season Review : Steven Gerrard
Di usianya yang sudah menginjak 33 tahun Gerrard dimainkan Rodgers sebagai deep playmaker, sebuah posisi baru bagi sang suami Alex Curran tentunya setelah sebelumnya dimainkan sebagai pemain di belakang striker oleh Rafael Benitez. Gerrard kini menjadi pengatur tempo permainan Liverpool sehingga kita tidak akan lagi melihat dia melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti seperti beberapa tahun lalu, kini Stevie-G bermain sejajar dengan dua bek tengah atau bahkan kadang lebih dalam lagi. Posisi yang menuntut intelegensi tinggi dan Gerrard sukses menjalankan tugasnya dengan baik sebagai deep-Playmaker, meskipun kesuksesannya menempati posisi baru tersebut ternoda oleh insiden terpelesetnya yang membuat Demba Ba berhasil mencetak gol dan memperkecil peluang Liverpool untuk menjadi juara meskipun pada akhirnya memang gagal juara.
Tak mudah bermain di posisi seperti Gerrard musim ini, Pirlo yang merupakan pelopor istilah "fake regista" pun mengakui kejeniusan Gerrard yang berhasil memainkan dengan baik peran barunya. Karena posisinya yang sangat berbahaya jika kehilangan bola itulah kenapa Rodgers selalu memainkan Henderson untuk mengcover Gerrard agar lebih leluasa mengatur tempo permainan dan ketika 3 laga tanpa Henderson terlihat bahwa Gerrard kesulitan untuk mengatur permainan karena Lucas yang menggantikan peran Henderson bermain statis tidak mobile untuk melakukan pressing terhadap lawan.
Gerrard kini tidak lagi melepaskan longball diagonal seperti musim lalu di mana Enrique ataupun Glen Johnson harus bersiap untuk menerima bola di sisi lapangan, taktik Rodgers musim ini mengharuskan Gerrard lebih jeli ketika melapaskan umpan karena harus memaksimalkan peluang untuk mencetak gol. Dengan tidak terlalu banyak bergerak di lapangan stamina Gerrard pun bisa optimal selama 90 menit karena lebih menggunakan intelejensinya dibandingkan speed and power.
Dengan bermain semakin di dalam berarti kesempatan untuk menciptakan gol lewat open play pun otomatis semakin mengecil, namun Gerrard tak kehabisan akal untuk memberikan kontribusi untuk Liverpool. Set pieces menjadi senjata mematikan milik Liverpool musim ini dan Gerrard adalah aktor dibalik ketajaman The Reds lewat skema set piece. Gerrard seolah menunjukkan kepada orang lain bahwa dia juga bisa seperti David Beckham yang begitu terkenal dengan tendangan melengkungnya, sehingga ada yang mengatakan bahwa nama panggilan Gerrard sudah berubah menjadi Setpieces-G karena kemampuannya setpiecesnya yang luar biasa di musim ini.
Meskipun kembali hanya menjadi yang kedua, setidaknya Gerrard telah mencapai targetnya di awal musim yang menargetkan Liverpool finish di empat besar. Dan musim depan Gerrard harus menularkan mental Eropa miliknya kepada rekan rekannya yang belum pernah merasakan atmosfer di UCL. Sebagai pemain paling senior yang sudah pernah merasakan dua kali final sudah layak dan sepantasnya jika Gerrard menjadi pemimpin bagi rekan rekannya yang mungkin belum pernah mendengarkan anthem Liga Champions secara langsung sebagai pemain.
Saturday, May 24, 2014
Season Review : Luis Suarez just can't get enough
Debut Suarez di EPL musim ini adalah pada saat Liverpool bertandang ke Stadium of Light dan dia sukses mencetak dua gol yang khusus dipersembahkannya untuk putranya Benjamin yang baru lahir beberapa hari sebelumnya. Setelah itu Suarez terus berkontribusi untuk gol Liverpool entah itu lewat assist atau lewat gol langsung, puncaknya tentu saja ketika dia meluluhlantakkan John Ruddy lewat 4 gol dan 1 assist yang lantas membuatnya memecahkan sejumlah rekor.
Pada akhirnya Suarez memang gagal membawa Liverpool untuk menjuarai Liga meskipun dirinya menjadi top skor dengan 31 gol dan juga menjadikannya sebagai pemain tersubur di Eropa bersama Cristiano Ronaldo, namun kerja keras dia dan rekan setimnya telah berhasil mengejutkan publik dan jika masih berseragam Liverpool musim depan maka Suarez akan merasakan atmosfer European Night di Anfield yang sangat terkenal itu.
Rodgers berhasil mengubah Suarez menjadi lebih ganas di depan gawang namun tidak pernah "nakal" lagi di lapangan sehingga dia berhasil melewati 33 laga di EPL musim ini tanpa ada skorsing sedikitpun. Suarez tak hanya menjadi pencetak gol, tapi juga memberikan sejumlah assist kepada rekan rekannya (catatan 12 assist untuk seorang penyerang tentu saja catatan yang luar biasa). Suarez kini sudah percaya kepada Sterling, tidak seperti musim lalu di mana dia akan terus menggocek bola di lapangan meski ada rekannya yang sudah berada di posisi bebas meskipun sebenarnya harus dimaklumi karena kedua rekannya adalah Stewart Downing yang kita sendiri tahu kualitas finishingnya seperti apa sementara Sterling belum seperti sekarang.
Tangisan Suarez di laga melawan Crystal Palace menunjukkan bahwa dia sangat merasa kecewa karena gagal membawa Liverpool menjuarai Liga, kecintaannya terhadap Liverpool sudah tidak perlu diragukan lagi meskipun kadang kadang statementnya ketika pulang ke Uruguay sering membuat gempar twitter. Terlepas dari wawancara yang sering menuai kontroversi saya percaya Luis sangat mencintai Liverpool, pertanyaan pertanyaan menjebak dari wartawan lah yang sering membuat suasana menjadi keruh. Hal tersebut tentu saja harus kita maklumi, media perlu drama untuk menaikkan berita mereka jadi semuanya tergantung kita yang menilai pemain itu sendiri bukan hanya bergantung dari akun akun berita yang terpercaya ataupun tak terpercaya sama sekali.
Jikapun nanti Suarez pindah saya tidak akan kecewa, bagi saya perjuangannya untuk membawa Liverpool kembali ke Liga Champions sudah menjadi bukti bahwa dia tidak pernah berpura pura mencintai klub ini. Ayah Delfina telah masuk ke dalam deretan striker terbaik yang pernah membela The Reds bahkan sampai Fowler mengatakan bahwa Suarez membuat striker Liverpool sebelumnya terlihat average karena skill yang dimiliki dan gol gol yang di cetak olehnya.
Suarez mendapatkan penghargaan PFA Player of The Year di penghujung musim karena FA akhirnya tidak punya alasan untuk tidak mengakui kehebatannya, 31 gol dan 12 assist sudah menjadi bukti sahih betapa "sakti"nya peforma Suarez musim ini di kancah Liga Inggris. Dengan raihan seperti itu wajar jika kemudian Suarez menjadi incaran sejumlah klub kaya raya. Kini tinggal bagaimana cara Liverpool agar Suarez bisa bertahan karena Liverpool juga punya nila tawar yang sama yaitu Main di Liga Champions.
Friday, May 23, 2014
Season Review : Raheem Sterling
Sterling di musim 2012/2013 belum menunjukkan bahwa dirinya bakal menjadi penghuni timnas Inggris karena masih terbatas sekedar lari lurus ke depan untuk menghasilkan sepak pojok, bukan assist atau gol. Mungkin sebagian penonton pasti geram ketika melihat Sterling membawa bola di sisi lapangan yang berujung corner atau lemparan kedalam, terlebih serangan set piece Liverpool pada saat itu bisa terbilang menyedihkan, belum segarang musim ini.
Sterling melebihi harapan Rodgers yang sekedar memainkannya agar Ibunya tidak merengek dan memintanya pindah klub, ternyata malah menjadi salah satu tumpuan di skema counter attacknya Liverpool ketika melawan tim tim yang bermain high-line defence seperti Arsenal dan Southampton. Apiknya peforma Sterling membuat Rodgers berdosa besar karena terpaksa harus membangkucadangkan seorang Nabi yang bisa membelah laut namun kesulitan membelah pertahanan tim lawan (baca : Moses). Bukan hanya Moses, bahkan the Sweet number Nine Iago Aspas pun terpaksa hanya turun di FA Cup karena gagal bersaing mengisi pos depan Liverpool.
Kini tidak ada lagi jokes yang mengatakan bahwa Sterling memiliki jumlah anak yang lebih banyak dibanding dengan golnya, semuanya bungkam dan harus mengakui kalau dia adalah pemain masa depan Inggris. Tidak ada media yang berani mempermasalahkan penalti Liverpool yang didapatkan oleh Sterling, semuanya baik baik saja kecuali penalti itu dihasilkan oleh Luis Suarez.
Sterling kini tak lagi sekedar lari lurus untuk mendapatkan corner, dia sudah bisa menusuk ke dalam kotak penalti entah itu dari sayap kanan atau sayap kiri. Rodgers bahkan pernah memainkan Sterling di belakang Suarez dan Sturridge yang menunjukkan bahwa Sterling sudah dipercaya untuk menahan bola lama lama di lapangan tengah seperti layaknya Coutinho.
Dengan talenta besar yang dimilikinya mulai sekarang Sterling harus bisa meredam ego dan siap bekerja secara tim dengan rekan rekan lainnya agar bisa terus berkembang di bawah asuhan Brendan Rodgers. Sterling memiliki stamina yang sangat prima dan diharapkan dia bisa menjaga dirinya agar jauh dari cedera sehingga tidak bernasib sama seperti senior terdahulunya Michael Owen.
Future is Bright !!!




